MURTADIN_KAFIRUN
Latest topics
» Malala Yousafzai - Penistaan Terhadap Islam Akan Menciptakan Terorisme
Asal usul sistem decimal EmptySun 17 Feb 2019, 7:20 am by buncis hitam

» Prediksi Bola Terbaik 1 Febuari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyThu 31 Jan 2019, 3:35 pm by bagas87

» Prediksi Skor Jitu 1 Febuari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyThu 31 Jan 2019, 3:24 pm by bagas87

» Prediksi & Bursa Bola 1 Febuari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyThu 31 Jan 2019, 3:19 pm by bagas87

» Prediksi Bola Lengkap 1 Febuari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyThu 31 Jan 2019, 3:15 pm by bagas87

» Prediksi Bola Terbaik 29-30 Januari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyTue 29 Jan 2019, 2:58 pm by bagas87

» Prediksi Skor Jitu 29-30 Januari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyTue 29 Jan 2019, 2:48 pm by bagas87

» Prediksi & Bursa Bola 29-30 Januari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyTue 29 Jan 2019, 2:41 pm by bagas87

» Prediksi Bola Lengkap 29-30 Januari 2019
Asal usul sistem decimal EmptyTue 29 Jan 2019, 2:31 pm by bagas87

Gallery


Asal usul sistem decimal Empty
MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 14 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 14 Guests :: 2 Bots

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed 26 May 2010, 4:49 pm
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking google  Social bookmarking blogmarks  Social bookmarking live      

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Asal usul sistem decimal

Go down

Asal usul sistem decimal Empty Asal usul sistem decimal

Post by humanisme on Sun 11 Jan 2009, 8:01 pm

Asal usul sistem decimal

http://www.answering-islam.org/Science/math.html

Klaim umum dari sisi muslim adalah

Haruskah saya mengingatkan anda bahwa angka2 yang anda pakai (1,2,3,..) adalah angka Arab ? Aljabar, Algorithma, dan banyak lagi istilah2 matematika juga dari Arab. Jika anda menyukai Matematika dan ilmu pengetahuan, anda harusnya berterimakasih kepada Quran karena telah memberikan mereka kepada Anda, karena tidak ada kitab lain yang telah memberikan ilmu pengetahuan lebih dari yang diberikan oleh Quran.

Mari kita selidiki klaim2 ini.

Angka Arab lebih tepatnya disebut angka Hindu-Arab karena mereka tidak berasal dari jazirah Arab tetapi berasal dari kaum Hindu sekitar tahun 200 sebelum Masehi. Sistim yang diadopsi oleh orang2 Arab sejak tahun 800 setelah Masehi paling dininya. Mereka membawanya ke Spanyol pada sekitar tahun 900. Sistim2 tersebut dibawa ke seluruh Eropa pada sekitar tahun 1100 …

Sangat sedikit orang2 Arab pada zaman Muhammed yang dapat membaca atau menulis atau mengenal aritmatika. Muhammed sendiri mengatakan kita adalah sebuah bangsa yang tidak mengerti bagaimana menulis atau mengerjakan aritmatika (nahnu 'omah la takteb wa la tahseb).

Adalah para tawanan perang Yahudi pada awal Islam yang mengajarkan para muslim awal bagaimana membaca dan menulis dan sebagainya dan untuk imbalannya mereka dibebaskan. Orang2 Arab memanfaatkan pedagang2 lokal, arsitek2 dan kaum terpelajar dari negara2 yang mereka taklukkan dan mendapatkan ketrampilan dari mereka. Ukuran ilmu pengetahuan dari orang2 Arab pada masa Muhammed tercermin dari Hadits dan Quran.

Setelah synopsis singkat, mari kita sekarang lebih mendalami dengan rujukan pada klaim2 di atas:

Haruskah saya mengingatkan anda bahwa angka2 yang anda pakai (1,2,3,..) adalah angka Arab ?

Simbol2 bahasa Arab untuk angka sungguh terlihat berbeda dari cara menulis orang2 Barat. Lihat saja angka2 pada ayat di dalam Quran berbahasa Arab. Cara penulisannya ( yaitu simbol2nya ) sungguh sangat berbeda, sehingga mereka tidaklah “Arab”, maka Saya kira klaim tersebut barangkali merujuk kepada cara pemakaiannya, misalnya posisi penomoran. ( Orang2 Yunani dan Yahudi telah lama menggunakan angka2 jauh sebelum orang2 Arab ). Diasumsikan posisi penomoran adalah dibuat untuk demikian dan bukan untuk angka2, saya harus merusak ilusi ini juga bahkan sejak itu tidak berasal dari orang2 Arab seperti yang akan kita lihat di bawah dalam detail yang lengkap.

Aljabar, Algorithma, dan banyak lagi istilah2 matematika juga dari Arab.

Aljabar dan Algoritma, saya setuju. Tetapi saya tidak begitu yakin jika anda dapat menambhkan “BANYAK lagi lainnya” pada daftar yang diklaim. ( Lalu kemudian hiperbolisme pun sebuah hal yang Arab juga.)

Jika anda menyukai Matematika dan ilmu pengetahuan, anda harusnya berterimakasih kepada Quran karena telah memberikan mereka kepada Anda, karena tidak ada kitab lain yang telah memberikan ilmu pengetahuan lebih dari yang diberikan oleh Quran.

Maukah anda menunjukkan kepada kami di mana persisnya Quran sungguh menyampaikan matematika kepada kita ? Saya belum menemukannya. Tolong kutip ayat yang persis menjelaskan konsep2 matematika tersebut yang anda mainkan.

Orang2 Arab terus belajar dari kaum terpelajar local sampai mereka mulai menginterpretasi ulang Quran. Tetapi puji Tuhan karena seseorang yang bernama Ghazali, dia menekan pendekatan baru dan memundurkan pemikiran Islam ratusan tahun ke belakang karena pendekatan baru membuat kontradiksi dengan hadits. Jika tidak oleh Imam Ghazali, kaum muslimlah bukan orang2 Amerika yang akan menjadi jagoan2 teknologi di planet ini.

Kata2 Aljabar dan Algoritma berasal dari bahasa Arab, tidak dipertanyakan. Tetapi, misalnya kata Aritmatika berasal dari Yunani kata Arithmos berarti nomor. Maka, ada istilah2 yang berasal dari satu bahasa dan istilah2 yang lain berasal dari bahasa2 yang lain, kemudian apa yang dapat kita simpulkan secara persis ? Juga pertimbangkan yang satu ini : Kata “computer” merupakan bahasa Inggris dan dipakai di seluruh dunia walaupun komputer2 pertama dibangun oleh insinyur Jerman bernama Konrad Zuse di antara tahun 1930 dan 1942. Tetapi adalah orang2 Amerika yang pertama kalinya membuat mereka pada skala besar dan mendistribusikan mereka, sehingga kata bahasa Inggris tersebut menjadi kata standar untuknya dalam banyak bahasa.
Dengan cara yang sama, orang2 Arab telah mengambil alih pekerjaan yang telah dilakukan oleh orang lain [ orang2 Yunani dan India] dan secara umum telah menyebarkannya dan nama Arab untuknya telah terpatri.

Sistim penomoran dikembangkan secara lengkap oleh orang India Hindu dalam abad keempat – keenam dan diadopsi oleh orang2 Arab hanya pada abad kesembilan-kesepuluh. [Encyclopædia Britannica] Entah bagaimana banyak orang masih mempercayai bahwa adalah orang2 Arab yang menciptakannya sementara mereka hanya memperkenalkannya ke seluruh dunia setelah mereka mengambil alih dari kaum Hindu. Bahkan ada sebuah tulisan public yang menggunakan sistim penomoran di India dari tahun 576, yang mana menunjukkan bahwa pada saat tersebut telah dipakai public dan tidak hanya dipakai oleh kaum terpelajar dalam studi2 mereka. Dan anda tahu bahwa tahun 576 adalah sebelum turunnya Quran.
Saya kutipkan ringkasan dari Carl B. Boyer, "History of Mathematics", (sebuah buku referensi standar):

Dalam masa abad pertama dari penaklukkan oleh orang2 Arab terjadi kebingungan secara politik dan intelektual… Orang2 Arab adalah yang awal2nya tidak memiliki ketertarikan pada intelektualitas, dan hanya memiliki peradaban yang rendah, jauh dari sebuah bahasa, untuk dipaksakan pada mayarakat yang mereka taklukkan… Tetapi pada tahun 750, orang2 Arab telah siap untuk mengulang sejarah, bagi para penakluk menjadi penasaran untuk mencerna pembelajaran atas peradaban yang telah mereka taklukkan. Pada tahun 766, kami mempelajari bahwa sebuah pekerjaan matematika-astronomi, yang dikenal orang2 Arab sebagai "Sindhind", dibawa dari India ke Baghdad… Beberapa tahun kemudian, mungkin sekitar tahun 775, Siddhanta tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan tidak lama setelahnya (ca.780) bahwa astrologi Ptolemy "Tetrabiblos"diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dari bahasa Yunani..[page 226]

Pada abad pertama kekuasaan kaum muslim sama sekali tidak menghasilkan pencapaian ilmu pengetahuan. Periode ini (dari sekitar tahun 650 - 750), secara fakta, barangkali telah menjadi saat terendah perkembangan matematika, karena orang2 Arab belum mencapai kesadaran intelektual, dan keinginan untuk pembelajaran di suatu bagian dari dunia telah sangat memudar. Jika saja tidak terjadi kebangkitan peradaban secara mendadak dalam Islam dalam masa akhir abag kedelapan, banyak sekali ilmu pengetahuan kuno dan matematika yang akan hilang. Ke Baghdad pada masa itu, dipanggillah kaum terpelajar dari Syria, Iran dan Mesopotamia, termasuk orang2 Yahudia dan Kristen Nestorian; di bawah tiga Abbasid besar yang gemar belajar-- al-Mansur, Haroun al-Rashid, dan al-Mamun – kota tersebut menjadi Alexandria baru. Dalam masa kekuasaan khalifah kedua dari para khalifah2 ini…, sebagian dari Euclid telah diterjemahkan…. Mohammed ibn-Musa al-Khwarizmi, ..., yang meninggal pada waktu di sekitar tahun 850, menulis lebih dari setengah lusin pekerjaan astronomi dan matematika, yang pada masa sangat awalnya mungkin berdasarkan pada Sindhind yang dihasilkan India. Di samping itu…[dia] menulis dua buku tentang Arithmatika dan Aljabar yang berperan sangat penting dalam sejarah matematika… Dalam pekerjaan ini, berdasarkan kelihatannya pada tejemahan bahasa Arab dari Brahmagupta, al-Khwarizmi memberikan begitu penuh sebuah penjelasan tentang angka2 kaum Hindu yang barangkali dia bertanggungjawab atas penyebarannya tetapi juga impresi palsu bahwa system penomoran adalah berasal dari Arab. Al-Khwarizmi tidak menyatakan penemuan dalam hubungan dengan system tersebut, sumber Hindu jika yang dia bicarakan sebagai hal yang selayaknya;... [pages 227-228]

Melalui Arithmatikanya, nama al- Khwarizmi telah menjadi sebuah kata bahasa Inggris yang umum; melalui judul dari bukunya yang sangat penting, Al-jabr wa'l muqabalah, dia telah memberikan kita dengan bahkan sebuah istilah domestic yang popular. Dari judul ini muncullah kata ‘Aljabar’, karena dari buku inilah yang kemudian dipelajari Eropa cabang matematika yang membawa namanya. Diophantus kadang2 disebut “bapak Aljabar”, tetapi julukan ini lebih tepat diberikan kepada al-Khwarizmi. Adalah benar bahwa dalam dua hasil pekerjaan al-Khwarizmi yang dihormati menjadi symbol sebuah kemunduran dari semua yang dikerjakan oleh Diaophantus. Pertama, adalah pada level yang jauh lebih dasar daripada yang ditemukan dalam masalah Diophantine dan kedua, Aljabar dari al-Khwarizmi adalah abstrak secara sistimatis, tanpa sinkopasi yang ditemukan dalam Arithmatika Yunani atau dalam pekerjaan Brahmagupta. Bahkan angka2 ditulis dalam kata2 daripada dengan simbol2! Adalah sangat mungkin bahwa al-Khwarizmi mengetahui mengenai pekerjaan Diophantus, tetapi dia seharusnya familiar dengan sedikitnya astronomi dan porsi2 penghitungan dari Brahmagupta; tetap saja al-Khwarizmi maupun kaum terpelajar Arab tidak memanfaatkan sinkopasi atau mengenai angka2 negative…[page 228]
________________________________________
Qur'an and Science
Answering Islam Home Page

humanisme
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts : 139
Reputation : 0
Points : 3861
Registration date : 2009-01-10

View user profile

Back to top Go down

Asal usul sistem decimal Empty Re: Asal usul sistem decimal

Post by hakeem on Wed 20 Jul 2011, 7:45 pm

Astronomi Islam Menguak Rahasia Langit
Sebagai salah satu ilmu pengetahuan tertua dalam peradaban manusia, Astronomi kerap dijuluki sebagai ‘ratu sains’. Astronomi memang menempati posisi yang terbilang istimewa dalam kehidupan manusia. Sejak dulu, manusia begitu terkagum-kagum ketika memandang kerlip bintang dan pesona benda-benda langit yang begitu luar biasa.

Awalnya, manusia menganggap fenomena langit sebagai sesuatu yang magis. Seiring berputarnya waktu dan zaman, manusia pun memanfaatkan keteraturan benda-benda yang mereka amati di angkasa untuk memenuhi kebutuhan hidup seperti penanggalan. Dengan mengamati langit, manusia pun bisa menentukan waktu utuk pesta, upacara keagamaan, waktu untuk mulai menabur benih dan panen.

Jejak astronomi tertua ditemukan dalam peradaban bangsa Sumeria dan Babilonia yang tinggal di Mesopotamia (3500 – 3000 SM). Bangsa Sumeria hanya menerapkan bentuk-bentuk dasar astronomi. Pembagian lingkaran menjadi 360 derajat berasal dari bangsa Sumeria.

Orang Sumeria juga sudah mengetahui gambaran konstelasi bintang sejak 3500 SM. Mereka menggambar pola-pola rasi bintang pada segel, vas, dan papan permainan. Nama rasi Aquarius yang dikenal saat ini berasal dari bangsa Sumeria.

Astronomi juga sudah dikenal masyarakat India kuno. Sekitar tahun 500 SM, Aryabhata melahirkan sistem matematika yang menempatkan bumi berputar pada porosnya. Aryabhata membuat perkiraan mengenai lingkaran dan diameter bumi. Brahmagupta (598 – 668) juga menulis teks astronomi yang berjudul Brahmasphutasiddhanta pada 628. Dialah astronom pendahulu yang menggunakan aljabar untuk memecahkan masalah-masalah astronomi.

Masyarakat Cina kuno 4000 SM juga sudah mengenal astronomi. Awalnya, astronomi di Cina digunakan untuk mengatur waktu. Orang Cina menggunakan kalender lunisolar. Namun, kerena perputaran matahari dan bulan berbeda, para ahli astronomi Cina sering menyiapkan kalender baru dan membuat observasi.

Bangsa Yunani kuno juga amat tertarik dengan astronomi. Adalah Thales yang mengawalinya pada abad ke-6 SM. Menurut dia, bumi itu berbentuk datar. Phytagoras sempat membantah pendapat itu dengan menyatakan bumi itu bulat. Dua abad berselang, Aristoteles melahirkan terobosan penting yang menegaskan menyatakan bahwa bumi itu bulat bundar.

Aristachus pada abad ke-3 SM sempat melontarkan pendapat bahwa Bumi bukanlah pusat alam semesta. Teori itu tak mendapat tempat pada masa itu. Era astronomi klasik ditutup Hipparchus pada abad ke-1 SM yang melontarkan teori geosentris. Bumi itu diam dan dikelilingi oleh matahari, bulan, dan planet-planet yang lain. Sistem geosentris itu disempurnakan Ptolomeus pada abad ke-2 M .

Astronomi Islam
Setelah runtuhnya kebudayaan Yunani dan Romawi pada abad pertengahan, maka kiblat kemajuan ilmu astronomi berpindah ke bangsa Arab. Astronomi berkembang begitu pesat pada masa keemasan Islam (8 – 15 M). Karya-karya astronomi Islam kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab dan dikembangkan para ilmuwan di Timur Tengah, Afrika Utara, Spanyol dan Asia Tengah.

Salah satu bukti dan pengaruh astronomi Islam yang cukup signifikan adalah penamaan sejumlah bintang yang menggunakan bahasa Arab, seperti Aldebaran dan Altair, Alnitak, Alnilam, Mintaka (tiga bintang terang di sabuk Orion), Aldebaran, Algol, Altair, Betelgeus.

Selain itu, astronomi Islam juga mewariskan beberapa istilah dalam `ratu sains’ itu yang hingga kini masih digunakan, seperti alhidade, azimuth, almucantar, almanac, denab, zenit, nadir, dan vega. Kumpulan tulisan dari astronomi Islam hingga kini masih tetap tersimpan dan jumlahnya mencapaii 10 ribu manuskrip.

Ahli sejarah sains, Donald Routledge Hill, membagi sejarah astronomi Islam ke dalam empat periode. Periode pertama (700-825 M) adalah masa asimilasi dan penyatuan awal dari astronomi Yunani, India dan Sassanid. Periode kedua (825-1025) adalah masa investigasi besar-besaran dan penerimaan serta modifikasi sistem Ptolomeus. Periode ketiga (1025-1450 M), masa kemajuan sistem astronomi Islam. Periode keempat (1450-1900 M), masa stagnasi, hanya sedikit kontribusi yang dihasilkan.

Geliat perkembangan astronomi di dunia Islam diawali dengan penerjemahan secara besar-besaran karya-karya astronomi dari Yunani serta India ke dalam bahasa Arab. Salah satu yang diterjemahkan adalah karya Ptolomeus yang termasyhur, Almagest. Berpusat di Baghdad, budaya keilmuan di dunia Islam pun tumbuh pesat.

Sejumlah, ahli astronomi Islam pun bermunculan, Nasiruddin at-Tusi berhasil memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Selain itu, ahli matematika dan astronomi Al-Khawarizmi, banyak membuat tabel-tabel untuk digunakan menentukan saat terjadinya bulan baru, terbit-terbenam matahari, bulan, planet, dan untuk prediksi gerhana.

Ahli astronomi lainnya, seperti Al-Batanni banyak mengoreksi perhitungan Ptolomeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Dia membuktikan kemungkinan gerhana matahari tahunan dan menghitung secara lebih akurat sudut lintasan matahari terhadap bumi, perhitungan yang sangat akurat mengenai lamanya setahun matahari 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik.

Astronom Islam juga merevisi orbit bulan dan planet-planet. Al-Battani mengusulkan teori baru untuk menentukan kondisi dapat terlihatnya bulan baru. Tak hanya itu, ia juga berhasil mengubah sistem perhitungan sebelumnya yang membagi satu hari ke dalam 60 bagian (jam) menjadi 12 bagian (12 jam), dan setelah ditambah 12 jam waktu malam sehingga berjumlah 24 jam.

Buku fenomenal karya Al-Battani pun diterjemahkan Barat. Buku ‘De Scienta Stelarum De Numeris Stellarum’ itu kini masih disimpan di Vatikan. Tokoh-tokoh astronomi Eropa seperti Copernicus, Regiomantanus, Kepler dan Peubach tak mungkin mencapai sukses tanpa jasa Al-Batani. Copernicus dalam bukunya ‘De Revoltionibus Orbium Clestium’ mengaku berutang budi pada Al-Battani.

Dunia astronomi juga tak bisa lepas dari bidang optik. Melalui bukunya Mizan Al-Hikmah, Al Haitham mengupas kerapatan atmofser. Ia mengembangkan teori mengenai hubungan antara kerapatan atmofser dan ketinggiannya. Hasil penelitiannya menyimpulkan ketinggian atmosfir akan homogen di ketinggian lima puluh mil.

Teori yang dikemukakan Ibn Al-Syatir tentang bumi mengelilingi matahari telah menginspirasi Copernicus. Akibatnya, Copernicus dimusuhi gereja dan dianggap pengikut setan. Demikian juga Galileo, yang merupakan pengikut Copernicus, secara resmi dikucilkan oleh Gereja Katolik dan dipaksa untuk bertobat, namun dia menolak.

Menurut para ahli sejarah, kedekatan dunia Islam dengan dunia lama yang dipelajarinya menjadi faktor berkembangnya astronomi Islam. Selain itu, begitu banyak teks karya-karya ahli astronomi yang menggunakan bahasa Yunani Kuno, dan Persia yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab selama abad kesembilan. Proses ini dipertinggi dengan toleransi terhadap sarjana dari agama lain. Sayang, dominasi itu tak bisa dipertahankan umat Islam.
Jejak Abadi di Kawah ke Bulan

Ilmuwan Islam begitu banyak memberi kontribusi bagi pengembangan dunia astronomi. Buah pikir dan hasil kerja keras para sarjana Islam di era tamadun itu diadopsi serta dikagumi para saintis Barat. Inilah beberapa ahli astronomi Islam dan kontribusi yang telah disumbangkannya bagi pengembangan `ratu sains’ itu.

Al-Battani (858-929).
Sejumlah karya tentang astronomi terlahir dari buah pikirnya. Salah satu karyanya yang paling populer adalah al-Zij al-Sabi. Kitab itu sangat bernilai dan dijadikan rujukan para ahli astronomi Barat selama beberapa abad, selepas Al-Battani meninggal dunia. Ia berhasil menentukan perkiraan awal bulan baru, perkiraan panjang matahari, dan mengoreksi hasil kerja Ptolemeus mengenai orbit bulan dan planet-planet tertentu. Al-Battani juga mengembangkan metode untuk menghitung gerakan dan orbit planet-planet. Ia memiliki peran yang utama dalam merenovasi astronomi modern yang berkembang kemudian di Eropa.

Al-Sufi (903-986 M)
Orang Barat menyebutnya Azophi. Nama lengkapnya adalah Abdur Rahman as-Sufi. Al-Sufi merupakan sarjana Islam yang mengembangkan astronomi terapan. Ia berkontribusi besar dalam menetapkan arah laluan bagi matahari, bulan, dan planet dan juga pergerakan matahari. Dalam Kitab Al-Kawakib as-Sabitah Al-Musawwar, Azhopi menetapkan ciri-ciri bintang, memperbincangkan kedudukan bintang, jarak, dan warnanya. Ia juga ada menulis mengenai astrolabe (perkakas kuno yang biasa digunakan untuk mengukur kedudukan benda langit pada bola langit) dan seribu satu cara penggunaannya.

Al-Biruni (973-1050 M)
Ahli astronomi yang satu ini, turut memberi sumbangan dalam bidang astrologi pada zaman Renaissance. Ia telah menyatakan bahwa bumi berputar pada porosnya. Pada zaman itu, Al-Biruni juga telah memperkirakan ukuran bumi dan membetulkan arah kota Makkah secara saintifik dari berbagai arah di dunia. Dari 150 hasil buah pikirnya, 35 diantaranya didedikasikan untuk bidang astronomi.

Ibnu Yunus (1009 M)
Sebagai bentuk pengakuan dunia astronomi terhadap kiprahnya, namanya diabadikan pada sebuah kawah di permukaan bulan. Salah satu kawah di permukaan bulan ada yang dinamakan Ibn Yunus. Ia menghabiskan masa hidupnya selama 30 tahun dari 977-1003 M untuk memperhatikan benda-benda di angkasa. Dengan menggunakan astrolabe yang besar, hingga berdiameter 1,4 meter, Ibnu Yunus telah membuat lebih dari 10 ribu catatan mengenai kedudukan matahari sepanjang tahun.

Al-Farghani
Nama lengkapnya Abu’l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Kathir al-Farghani. Ia merupakan salah seorang sarjana Islam dalam bidang astronomi yang amat dikagumi. Beliau adalah merupakan salah seorang ahli astronomi pada masa Khalifah Al-Ma’mun. Dia menulis mengenai astrolabe dan menerangkan mengenai teori matematik di balik penggunaan peralatan astronomi itu. Kitabnya yang paling populer adalah Fi Harakat Al-Samawiyah wa Jaamai Ilm al-Nujum tentang kosmologi.

Al-Zarqali (1029-1087 M)
Saintis Barat mengenalnya dengan panggilan Arzachel. Wajah Al-Zarqali diabadikan pada setem di Spanyol, sebagai bentuk penghargaan atas sumbangannya terhadap penciptaan astrolabe yang lebih baik. Beliau telah menciptakan jadwal Toledan dan juga merupakan seorang ahli yang menciptakan astrolabe yang lebih kompleks bernama Safiha.

Jabir Ibn Aflah (1145 M)
Sejatinya Jabir Ibn Aflah atau Geber adalah seorang ahli matematik Islam berbangsa Spanyol. Namun, Jabir pun ikut memberi warna da kontribusi dalam pengembangan ilmu astronomi. Geber, begitu orang barat menyebutnya, adalah ilmuwan pertama yang menciptakan sfera cakrawala mudah dipindahkan untuk mengukur dan menerangkan mengenai pergerakan objek langit. Salah satu karyanya yang populer adalah Kitab al-Hay’ah.
Kegemilangan Observatorium Ulugh Beg

Sejatinya observatorium pertama di dunia dibangun astronom Yunani bernama Hipparchus (150 SM). Namun, di mata ahli astronomi Muslim abad pertengahan, konsep observatorium yang dilahirkan Hipparcus itu jauh dari memadai. Sebagai ajang pembuktian, para sarjana Muslim pun membangun observatorium yang lebih moderen pada zamannya.

Sejumlah astronom Muslim yang dipimpin Nasir al-Din al-Tusi berhasil membangun observatorium astronomi di Maragha pada 1259 M. Observatorium itu dilengkapi perpustakaan dengan koleksi buku mencapai 400 ribu judul. Observatorium Maragha juga telah melahirkan sejumlah astronom terkemuka seperti, QuIb al-Din al-Shirazy, Mu’ayyid al-Din al-Urdy, Muiyi al-Din al-Maghriby, dan banyak lagi.

Ahli astronomi Barat, Kevin Krisciunas dalam tulisannya berjudul The Legacy of Ulugh Beg mengungkapkan, observatorium termegah yang dibangun sarjana Muslim adalah Ulugh Beg. Observatorium itu dibangun seorang penguasa keturunan Mongol yang bertahta di Samarkand bernama Muhammad Taragai Ulugh Beg (1393-1449). Dia adalah seorang pejabat yang menaruh perhatian terhadap astronomi.

`’Ketertarikan dalam astronomi bemula, ketika dia mengunjungi Observatorium Maragha yang dibangun ahli astronomi Muslim terkemuka, Nasir al-Din al-Tusi,” tutur Krisciunas. Geliat pengkajian astronomi di Samarkand mulai berlangsung pada tahun 1201. Namun, aktivitas astronomi yang sesungguhnya di wilayah kekuasaan Ulugh Beg mulai terjadi pada 1408 M.

Ghirah astronomi di Samarkand mengalami puncaknya ketika Ulugh Beg mulai membangun observatorim pada 1420. Menurut Kriscunas, berdasarkan laporan yang ditulis ahli astronomi pada saat iru, Al-Kashi aktivitas pengkajian astronomi di Observatorium Ulugh Beg didukung oleh tujuh puluh sarjana. Para ahli astronomi itu mendapatkan perlakukan istimewa dengan fasilitas dan gaji yang luar biasa besarnya.

Observatorium ini beroperasi selama 50 tahun. Sayangnya, setelah Ulugh Beg meninggal, obeservatorium itu pun mengalami kehancuran. Sejumlah astronom telah lahir dari lembaga itu yakni, Giyath al-Din Jamshid al-Kushy, Qadizada al-Rumy dan `Ali ibn Muhammad al-Qashji. Observatorium yang terakhir milik Islam dibangun di Istanbul tahun 1577, di zaman kekuasaan Sultan Murad III (1574-1595) yang didirikan Taqi al-Din Muhammad ibn Ma’ruf al-Rashyd al-Dimashqiy. (Heri Ruslan–Republika)
hakeem
hakeem
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts : 193
Reputation : 1
Points : 3122
Registration date : 2011-07-17

View user profile

Back to top Go down

Back to top


 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum