MURTADIN_KAFIRUN
Similar topics
    Latest topics
    » Malala Yousafzai - Penistaan Terhadap Islam Akan Menciptakan Terorisme
    Sun 17 Feb 2019, 7:20 am by buncis hitam

    » Prediksi Bola Terbaik 1 Febuari 2019
    Thu 31 Jan 2019, 3:35 pm by bagas87

    » Prediksi Skor Jitu 1 Febuari 2019
    Thu 31 Jan 2019, 3:24 pm by bagas87

    » Prediksi & Bursa Bola 1 Febuari 2019
    Thu 31 Jan 2019, 3:19 pm by bagas87

    » Prediksi Bola Lengkap 1 Febuari 2019
    Thu 31 Jan 2019, 3:15 pm by bagas87

    » Prediksi Bola Terbaik 29-30 Januari 2019
    Tue 29 Jan 2019, 2:58 pm by bagas87

    » Prediksi Skor Jitu 29-30 Januari 2019
    Tue 29 Jan 2019, 2:48 pm by bagas87

    » Prediksi & Bursa Bola 29-30 Januari 2019
    Tue 29 Jan 2019, 2:41 pm by bagas87

    » Prediksi Bola Lengkap 29-30 Januari 2019
    Tue 29 Jan 2019, 2:31 pm by bagas87

    Gallery


    MILIS MURTADIN_KAFIRUN
    MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

    Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

    Menyongsong Punahnya Islam

    Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
     

    Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

    Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

    Powered by us.groups.yahoo.com

    Who is online?
    In total there are 11 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 11 Guests :: 2 Bots

    None

    [ View the whole list ]


    Most users ever online was 354 on Wed 26 May 2010, 4:49 pm
    RSS feeds


    Yahoo! 
    MSN 
    AOL 
    Netvibes 
    Bloglines 


    Social bookmarking

    Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking google  Social bookmarking blogmarks  Social bookmarking live      

    Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

    Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


    1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Go down

    1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by batak on Mon 20 Sep 2010, 9:32 pm

    Hasil survey keimanan terbesar yang pernah dilakukan sudah dilakukan setahun lalu oleh Lynn et al.


    Ada 137 negara yang di survey dan dengan antusias saya berharap ada negara kita di sana. Dan itu dia negara kita, perhatikan gambar 1. Yang dilingkari adalah negara kita. Dan satu yang mengesankan IQ rata-rata orang dewasa di negara kita, bukanlah 100, tapi 87!

    Perbandingan pada gambar 1 disusun berdasarkan abjad, sekarang kita bandingkan antara negara-negara di Asia Tenggara. Perhatikan tabel 1 tentang perbandingan ateis di negara-negara asia tenggara.



    Gambar 1. Posisi negara kita


    Tabel 1. Jumlah Ateis di Negara Asia Tenggara
    NegaraIQPersen ateis
    Thailand910.5
    Laos895
    Vietnam9481
    Kamboja917
    Malaysia920.5
    Singapura10813
    Brunei910.5
    Indonesia871.5
    Philipina860.5

    Sumber : Lynn et al, 2009

    Let’s see, IQ rata-rata penduduk di negara kita kedua terendah di Asia Tenggara, tapi untungnya jumlah ateis kita hanya kelima terendah. Walau data di atas tidak memuat Myanmark dan Timor Leste, gambaran ini sudah cukup memberi kita pola persebaran ateis di Asia Tenggara.

    Ada yang menonjol di sana, Vietnam. Jumlah ateisnya luar biasa besar, jauh melebihi negara lain di Asia Tenggara. Padahal bila anda lihat dari IQ, Vietnam masih kalah jauh dengan Singapura. Jadi semata kecerdasan tidak dapat menjelaskan jumlah populasi ateis di sana. I know what you thinking, jawabannya komunisme.


    Komunisme



    Ya, baik Indonesia maupun Vietnam punya sejarah besar dengan komunisme. Di Indonesia komunisme di tolak, tapi di Vietnam negara sempat terbelah dua karenanya. Ingat bagaimana dahsyatnya perang Vietnam antara Amerika dan Komunis Vietnam. So Komunisme bertanggung jawab atas besarnya populasi ateis di sana. Sekarang, negara apa lagi yang punya sejarah dengan komunisme? Negara bekas Uni Soviet dan China Kuba serta Korea Utara. Mari kita lihat statistiknya

    Tabel 2. Jumlah ateis di negara bekas komunis
    NegaraIQPersentase ateis
    Armenia9414
    Azerbaijan870.5
    Belorusia9717
    China10512
    Estonia9949
    Georgia944
    Kazakhstan9412
    Kirgiztan907
    Kuba8540
    Latvia9820
    Lithuania9113
    Moldova966
    Rusia 9727
    Tadzikistan872
    Turkmenistan872
    Ukraina9720
    Uzbekistan874

    Sumber : Lynn et al, 2009

    Kembali kita lihat pola yang kurang lebih sama berulang. Ada negara bekas komunis yang sangat sedikit ateisnya, dan ada yang sangat banyak. Sayang tidak ada data tentang Korea Utara, tapi saya yakin kalau ada, maka ateisnya akan sangat banyak, seperti di Vietnam.

    Apa artinya ini? Jelas komunisme tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya sebab. Lihat saja China, walaupun ia komunis tapi persentase ateisnya tidak semencolok Vietnam.

    Jadi bila bukan karena komunisme, jadi karena apa? Mari kita lihat langsung negara-negara dengan persentase ateis terbesar di dunia dihitung dari persentase di atas 40 persen

    Tabel 3. Sepuluh Negara dengan persentase ateis tertinggi di dunia
    NegaraIQPersentase ateis
    Belgia9943
    Ceko9861
    Denmark9848
    Estonia9949
    Inggris10041.5
    Jepang10565
    Jerman9942
    Perancis9844
    Swedia9964
    Vietnam9481

    Sumber : Lynn et al, 2009

    Ceko memiliki populasi ateis yang besar mungkin karena komunisme, begitu juga Vietnam dan Estonia. Tapi bagaimana anda menjelaskan tujuh negara terbesar sisanya? Belgia, Denmark, Inggris, Jepang, Jerman, Perancis dan Swedia? Mari kita dengarkan penjelasan dari Lynn et al sendiri.



    Survey PEW yang terbaru

    Kecerdasan



    Ada sejumlah besar hasil penelitian yang menemukan korelasi negatif antara kecerdasan dan keimanan. Bell tahun 2002 sudah mengumpulkan 43 laporan hasil penelitian dan dari semua ini, hanya 4 yang tidak menemukan hubungan negatif. Tidak menemukan hubungan negatif bukan harus positif tapi bisa juga tidak berhubungan sama sekali. Jadi ada 39 hasil penelitian menunjukkan semakin bodoh seorang, semakin besar kemungkinan kalau ia, well, orang yang beriman.

    Masih ada penelitian lain. Verhage (1964) misalnya melakukan survey nasional di Belanda yang memuat 1538 sampel yang dipilih dengan hati-hati. Ia menemukan kalau agnostik dan ateis rata-rata memiliki IQ 4 point lebih tinggi dari orang beriman. Kanazawa (2009) menganalisa data dari Studi Kesehatan Remaja Longitudinal Nasional Amerika yang mengukur kecerdasan remaja lewat Tes Kosakata Gambar Peabody (PPVT). Tes ini dilakukan pada 14.277 remaja di penjuru Amerika Serikat. Untuk mengukur keimanan dilakukan wawancara, dengan pertanyaan : Apakah anda orang yang beriman? Jawabannya adalah sangat beriman, beriman, tidak beriman dan sangat tidak beriman. Remaja yang menjawab sangat tidak beriman memiliki IQ tertinggi yaitu 103,09. Yang mengatakan tidak beriman 99,34; yang mengatakan beriman 98,28 dan yang mengatakan sangat beriman 97,14. Dari gambaran ini jelas kalau hubungan yang ditemukan bersifat sangat signifikan dengan p<0,00001.

    Hal yang sama dilakukan terhadap para ilmuan. Leuba pada tahun 1921 melakukan survey pada keyakinan para ilmuan dan sarjana Amerika dan hasilnya hanya 39% yang mengatakan mereka percaya adanya Tuhan. Bila kelompok dipecah berdasarkan disiplin ilmu, semua disiplin ilmu berada dibawah 50%. Yang paling banyak ilmuan beragama adalah Sejarah (48%) dan paling rendah adalah Psikologi (24%). Itu studi tahun 1921, sangat klasik. Ada yang lebih modern? Tentu saja, tahun 1965 dilakukan oleh Roe. Sampelnya adalah 64 ilmuan terkemuka dan dari ini semua, 61 orang menyatakan tidak beragama. Hell, berarti hanya 4,8% ilmuan terkemuka yang beriman. Dan ini jauh mencolok dibandingkan persentase orang beriman di kalangan masyarakat awam Amerika Serikat yang mencapai 95,5% di tahun 1958 sebagaimana dilaporkan Argyle. Lebih modern lagi, kita punya laporan penelitian Larsen dan Witham tahun 1998. Persentase tidak berubah banyak. Dari semua anggota Lembaga Ilmu Pengetahuan Amerika Serikat (American National Academy of Sciences) hanya 7% yang mengaku teis (percaya adanya Tuhan). Jauh mencolok dibandingkan penduduk awam yang mencapai 90%. Hal yang sama dilaporkan Dawkins tahun 2006 di Inggris. Hanya 3,3 anggota Royal Society yang percaya Tuhan ada, 78,8% tidak percaya tuhan ada (ateis) dan sisanya tidak memutuskan. Ini juga mencolok dibandingkan masyarakat awam di Inggris yang 68,5% percaya adanya Tuhan saat itu.



    Gambar 2. Hasil Survey (Kanazawa, 2009)


    Digabungkan dengan hasil penelitian Lynn et al ini, hasilnya memunculkan pertanyaa, kenapa mesti ada korelasi negatif antara IQ dan keyakinan adanya Tuhan. Banyak orang rasional tidak diragukan lagi mengakui pendapat Frazer (1922) bahwa saat peradaban berkembang, pikiran yang cemerlang mulai menolak penjelasan religius atas fenomena alam karena dianggap telah tidak sesuai lagi, dan penjelasan agama perlahan digantikan dengan sains. Yang lain berpendapat kalau semakin seseorang cerdas, semakin cenderung ia mempertanyakan hal-hal yang tidak masuk akal dan tidak didukung bukti dari dogma agama. Sebagai contoh, 60 tahun lalu, Kuhlen dan Arnold (1944) mengatakan bahwa semakin dewasa intelektual seseorang, semakin ia skeptis terhadap masalah agama. Inglehart dan Welzel tahun 2005 mengatakan bahwa di dunia pra industri, manusia memiliki sedikit kekuasaan terhadap alam. Akibatnya mereka mencari penenang atas ketidak mampuan mereka dengan memberikan kuasa tersebut pada sesuatu yang metafisik yang terlihat mengendalikan dunia. Penyembahan dilihat sebagai cara mempengaruhi takdir, dan lebih mudah menerima ketidak berdayaan bila kita tahu hasilnya berada di tangan sesosok mahluk maha kuasa yang masih bisa ditarik hatinya lewat aturan-aturan agama. Salah satu alasan penurunan keyakinan beragama adalah meningkatnya kemampuan mengendalikan alam lewat teknologi sehingga menghilangkan kebutuhan untuk bertopang pada kekuatan supernatural.

    Lihat saja tabel mengenai 10 negara ber IQ paling rendah di dunia ini, mereka cenderung merupakan negara dengan penduduk paling beriman. Untuk membandingkannya lihat juga negara dengan penduduk ber IQ rata-rata tertinggi. Tabel 6 menunjukkan pemeriksaan korelasi IQ dan persentase ateis, yang ternyata sangat signifikan.

    Tabel 4. Sepuluh negara dengan penduduk ber IQ paling rendah di dunia
    NegaraIQPersentase ateis
    Kamerun640.5
    Afrika Tengah641.5
    Republik Kongo642.7
    Ethiopia640.5
    Mozambique645
    Sierra Leone640.5
    Gambia660.5
    Senegal660.5
    Zimbabwe664
    Guinea670.5

    Sumber : Lynn et al, 2009

    Tabel 5. Sepuluh negara dengan penduduk ber IQ tertinggi di dunia
    NegaraIQPersentase ateis
    Singapura10813
    Korea selatan10630
    China10512
    Jepang10565
    Taiwan10524
    Italia1026
    Islandia10116
    Mongolia10120
    Swiss10117
    Austria10018

    Sumber: Lynn et al, 2009

    Tabel 6. Hasil analisa Regresi Linier korelasi IQ dan Persentase Ateis
    SUMMARY OUTPUT
    Regression Statistics
    Multiple R0.59735
    R Square0.356827
    Adjusted R Square0.352063
    Standard Error9.578737
    Observations137
    ANOVA
    dfSSMSFSignificance F
    Regression16871.9496871.94974.896831.30717E-14
    Residual13512386.5591.7522
    Total13619258.5
    CoefficientsStandard Errort StatP-valueLower 95%
    Intercept80.860370.97123183.255586.6E-11878.93957366
    % Not believing in God0.4488160.0518618.6542951.31E-140.346252132



    Plot data Lynn et al

    Penjelasan yang lebih sederhana



    Nigel Barber, Ph.D. mencoba menjelaskan alasan mengapa ateis memiliki IQ lebih tinggi. Seperti banyak tipe korelasi semacam ini, apa yang ada sebenarnya tidak terlalu mengesankan.

    Ateis mungkin lebih cerdas dari orang beriman karena mereka mendapatkan banyak manfaat dari kondisi sosial yang kebetulan berkorelasi dengan hilangnya keyakinan agama. Bila anda lihat dari tabel utama yang dilaporkan Lynn et al (2009), terdapat beberapa pola yang ditemukan. Negara yang penduduknya sangat religius ternyata:

    1. Negara miskin

    2. Sedikit kota besar

    3. Pendidikan rendah

    4. Kurang terpaparkan pada media elektronik yang dapat meningkatkan kecerdasan (Barber, 2006)

    5. Mengalami banyak penyakit menular yang merusak fungsi otak

    6. Lebih banyak mengalami berat lahir yang rendah

    7. Lebih banyak menderita gizi buruk

    8. Tidak mampu mengendalikan polusi lingkungan seperti timbal yang dapat mengurangi kecerdasan.

    Inilah faktor-faktor yang menurut Barber menyebabkan rendahnya IQ di negara tersebut.

    Barber meragukan kalau agama menyebabkan kebodohan hanya karena ada beberapa orang cerdas dalam sejarah saja yang sangat religius, seperti Newton misalnya. Masalahnya lebih rumit. Tentu saja, dapat diakui kalau orang yang sangat cerdas bermasalah dalam menerima beberapa keyakinan yang diajarkan agama. Lebih lanjut, sains modern menawarkan penjelasan atas fenomena yang sebelumnya hanya dijelaskan oleh agama. Orang yang cerdas akan memilih penjelasan sains daripada agama. Sebagai contoh, orang yang cerdas akan memilih percaya kalau gempa disebabkan oleh pergerakan lempeng benua ketimbang menurunnya akhlak dan menyebarnya DVD porno.



    Salah satu suku di Himachal Pradesh, India

    Kesimpulan



    Tidak diragukan lagi kalau kebanyakan ateis lebih cerdas dari rata-rata orang religius. Karena orang yang ber IQ rata-rata jauh lebih banyak dari orang yang cerdas, adalah wajar kalau kita sedikit menemukan ateis di Indonesia. Tapi IQ dapat diubah, dan bukan hanya IQ yang menyebabkan orang menjadi ateis, ada banyak sekali faktor. Trauma, trend dan sebagainya. Sebagai pemerhati sains, apa yang mesti kita permasalahkan bukanlah keyakinan, tapi manifestasi dari keyakinan tersebut. Seberapa banyak korban yang harus mati karena pertikaian agama. Mungkinkah ateisme salah satu solusinya?

    addendum

    Beberapa pembaca menanyakan metode surveynya. Dari artikelnya yang ada di bawah (Referensi kedua) anda dapat melihat metodenya. Metodenya adalah studi literatur. Literatur untuk mengetahui persentase di Amerika Serikat adalah hasil wawancara dan tes IQ tahun 1997 pada remaja berusia 12-17 tahun. Sementara itu untuk negara lainnya menggunakan dua literatur yaitu dari Lynn dan Vanhanen sendiri tahun 2006 dan dari Zuckerman 2007. Pada gilirannya, Lynn dan Vanhanen mengumpulkan data hasil tes IQ di 81 negara lalu mencari tahu apakah mereka percaya/tidak percaya Tuhan ada dengan berbagai cara berdasarkan identitas yang tertulis di hasil tes IQ. Metode ini dikritik keras oleh McDaniel (2008) terutama karena sampel yang tidak mewakili populasi (responden menumpuk di universitas) dan penggunaan regresi untuk meramalkan nilai di beberapa negara, bukannya dengan survey langsung pula. Karenanya Lynn et al juga menyertakan referensi Zuckerman (2007) yang menggunakan survey langsung. Sayangnya Zuckerman hanya memuat data persentase ateisme saja tanpa IQ. Akibatnya tes IQ kembali harus di regresikan secara statistik.
    Referensi Utama



    1. Barber, N. 2010. The Real Reason Atheist Have Higher IQs. Psychology Today, May 2010

    2. Lynn, R., Harvey, J., & Nyborg, H. (2009). Intelligence predicts atheism across 137 nations. Intelligence, 37, 11-15.
    Referensi Silang



    1. Argyle, M. (1958). Religious Behaviour. London: Routledge and Kegan Paul

    2. Barber, N. (2006). Is the effect of national wealth on academic achievement mediated by mass media and computers? Cross-Cultural Research, 40, 130-151.

    3. Bell, P. (2002). Would you believe it?: Mensa Magazine Feb., 12-13.

    4. Dawkins, R. (2006). The God Delusion. London: Bantam Press.

    5. Frazer, J. G. (1922). The Golden Bough. London: Macmillan

    6. Inglehart, R.,& Welzel, C. (2005).Modernization, Cultural Change, and Democracy: The Human Development Sequence. Cambridge: Cambridge University Press 2005

    7. Kanazawa, S. (2009). Why liberals and atheists are more intelligent.

    8. Kuhlen, R. G., & Arnold, M. (1944). Age differences in religious beliefs and problems during adolescence. Journal of Genetic Psychology, 65, 291?300.

    9. Larsen, E. L., Witham, L. (1998). Leading scientists still reject God. Nature, 394, 313.

    10. Leuba, J. A. (1921).The Belief in God and Immortality. Chicago: Open Court Publishers

    11. Lynn, R.,& Vanhanen, T. (2006). IQ and Global Inequality. Athens: GA: Washington Summit Publishers.

    12. McDaniel, M.A. 2008. Review of “IQ and global inequality.

    13. Roe, A. (1965). The Psychology of Occupations. New York: Wiley.

    14. Verhage, F. (1964). Intelligence and religious persuasion. Nederlands Tijdschrift voor de Psychologie en haar Grensgebieden, 19, 247?254.

    15. Zuckerman, P. (2007). Atheism: contemporary numbers and patterns. In M. Martin (Ed.), The Cambridge Companion to Atheism. Cambridge: Cambridge University Press.

    _________________
    Agama adalah candu,racun dan pembodohan bagi masyarakat yang memeluknya apalagi dilaksanakan secara fanatik
    batak
    batak
    RED MEMBERS
    RED MEMBERS

    Female
    Number of posts : 73
    Age : 37
    Reputation : -3
    Points : 3836
    Registration date : 2009-01-25

    View user profile

    Back to top Go down

    Re: 1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by agus on Sat 30 Oct 2010, 7:49 pm

    Keseimbangan kecerdasan manusia bukan hanya diukur melalui IQ terdapat juga parameter lain seperti SQ dan ESQ....

    _________________
    Jika pikiran bisa memikirkannya, dan hati saya dapat mempercayainya - maka saya bisa mencapainya
    agus
    agus
    SILVER MEMBERS
    SILVER MEMBERS

    Male
    Number of posts : 8585
    Location : Everywhere but no where
    Job/hobbies : Baca-baca
    Humor : Shaggy yang malang
    Reputation : 45
    Points : 12769
    Registration date : 2010-04-16

    View user profile

    Back to top Go down

    Re: 1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by admin on Sun 02 Jan 2011, 4:12 am

    @agus wrote:Keseimbangan kecerdasan manusia bukan hanya diukur melalui IQ terdapat juga parameter lain seperti SQ dan ESQ....
    kecerdasan itu tetap IQ , keberhasilan seseorang itu baru digabungkan dengan yang lain baru benar
    jadi orang yang IQ tinggi belum tentu dia sukses

    _________________
    MURTADINKAFIRUN
    MURTADIN KAFIRUN exMUSLIM INDONESIA BERJAYA 11 SEPTEMBER Hari Murtad Dari Islam Sedunia
    admin
    admin
    ADMINISTRATOR
    ADMINISTRATOR

    Male
    Number of posts : 1206
    Age : 19
    Reputation : -4
    Points : 6081
    Registration date : 2008-12-18

    View user profile http://groups.yahoo.com/group/MURTADIN_KAFIRUN/

    Back to top Go down

    Re: 1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by Goespel on Wed 05 Jan 2011, 9:24 pm


    Kecerdasan itu bukan IQ

    Ada banyak orang yang salah kaprah dalam menggunakan sebutan IQ (intelligence quotient/kuasi kecerdasan), dengan mengatakan misalnya, “Anak saya akan mengikuti tes IQ di sekolahnya.” Sebenarnya apa yang disebut sebagai “tes IQ” itu tidak pernah ada dan tidak pernah dikenal dalam dunia psikologi, yang ada adalah “tes kecerdasan/inteligensi”. Banyak orang yang menganggap IQ dan kecerdasan sebagai dua hal yang sama dan serupa, oleh karena itu muncullah kalimat seperti di atas misalnya, padahal kedua-duanya berbeda jauh, baik dalam pengertian maupun penggunaannya.

    Istilah IQ sendiri muncul pada awal abad ke-20 ketika seorang Prancis yang bernama Alfred Binet (dibantu koleganya yang bernama Theodore Simon) menciptakan sebuah alat ukur untuk mengukur kecerdasan anak-anak di Prancis dengan tujuan agar dapat memisahkan anak-anak yang memiliki kemampuan menerima pendidikan/pelajaran secara normal dan yang tidak, anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental akan dipisahkan dalam lembaga pendidikan khusus. Usaha tersebut kemudian dilanjutkan di Amerika oleh Lewis Terman dan kolega-koleganya di Universitas Stanford dengan menerbitkan alat tes yang bernama Stanford-Binet sekaligus membakukan istilah IQ tersebut.

    Dalam tes tersebut dikenal istilah usia kronologis (chronological age) dan usia mental (mental age). Usia kronologis adalah usia jasmaniah/usia kelahiran, misalnya usia 10 tahun, artinya anak tersebut telah 10 tahun hidup setelah kelahirannya. Adapun usia mental adalah usia yang menunjukkan kemampuan mental seseorang untuk mengerjakan tugas-tugas yang disusun untuk usia tertentu yang ada dalam tes tersebut. Anak yang dapat mengerjakan tugas-tugas pada usia di atas usia kronologisnya berarti memiliki usia mental di atas rata-rata, sedangkan anak yang hanya dapat mengerjakan tugas-tugas di bawah usia kronologisnya dan tidak dapat mengerjakan tugas-tugas pada usianya berarti memiliki usia mental di bawah rata-rata. Misalnya, anak yang berusia 6 tahun (usia kronologis) dapat mengerjakan hingga tugas-tugas untuk usia 8 tahun, berarti ia memiliki usia mental 8 tahun, maka perhitungannya kecerdasan dalam ukuran IQ adalah:

    MA/CAx100=IQ

    MA: mental age (usia mental)
    CA : chronological age (usia kronologis)
    IQ : Intelligence quotient (kuasi kecerdasan)

    8/6x100= 133,
    jadi anak tersebut memiliki kecerdasan dalam ukuran IQ=133

    IQ adalah ukuran kecerdasan yang nilainya didapat dari hasil bagi (kuasi) antara kecerdasan kronologis dan kecerdasan mental. Jadi, IQ adalah ukuran untuk menyebutkan nilai kecerdasan, bukan kecerdasan itu sendiri, sedangkan kecerdasan itu tidak hanya dapat dinilai dalam ukuran IQ, bisa bermacam-macam ukuran, tergantung alat tes dan teori yang digunakan.

    Untuk jumlah atheis di Indonesia : 243.391 orang (0,1 % dari jumlah penduduk Indonesia)

    http://murtadinkafirun.forumotion.com/t9130-agama-vs-atheis#48030


    Goespel
    Goespel
    RED MEMBERS
    RED MEMBERS

    Number of posts : 30
    Location : Depan Monitor
    Job/hobbies : Ngembat Rumput
    Humor : Ingin menjadi Tuhan
    Reputation : 0
    Points : 3126
    Registration date : 2010-10-09

    View user profile

    Back to top Go down

    Re: 1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by Gak_Mau_DiSembah on Sat 12 Feb 2011, 10:06 pm

    ATHEIS KO BANGGA......

    _________________
    *Dan apabila dibacakan Al quran, maka dengarkanlah baik-baik,

    dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat ( Al A'raaf : 204 ) *
    [center]
    Gak_Mau_DiSembah
    Gak_Mau_DiSembah
    SILVER MEMBERS
    SILVER MEMBERS

    Female
    Number of posts : 1054
    Location : Calon Penghuni Surga
    Job/hobbies : Masak ayam panggang, Yesus jgn minta yah....
    Humor : dogma gereja: gak blh bantah, gak usah banyak nanya, telen aja..(kl ada yg salah) di edit aja... gtu aja kok repot!!!
    Reputation : 2
    Points : 4090
    Registration date : 2011-02-08

    View user profile

    Back to top Go down

    Re: 1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by cinta rosul on Sat 19 Feb 2011, 9:27 am

    bener boss IQ bikin sukses mereka pintar - pintar
    *pintar bikin video mesum,(sampe anak dibawah umur jadi PSK)
    *pintar bikin tempat maksiat,(Tempat judi, bar,karaoke)
    *pintar membajak hak cipta,(bikin BB Palsu,bikin nok** palsu)
    *pintar kategori setan githu,yang penting untung,
    walaupun dunia ini makmur dengan ilmu pengetahuan,buat apa klo menuju kehancuran
    udah terbukti banyak orang pintar bikin senjata penghancur masal.buat apa coba???

    cinta rosul
    RED MEMBERS
    RED MEMBERS

    Number of posts : 29
    Reputation : 0
    Points : 3132
    Registration date : 2010-09-30

    View user profile

    Back to top Go down

    Re: 1.5 persen penduduk Indonesia Ateis

    Post by Sponsored content


    Sponsored content


    Back to top Go down

    Back to top

    - Similar topics

     
    Permissions in this forum:
    You cannot reply to topics in this forum