MURTADIN_KAFIRUN
Similar topics
    Latest topics
    » Malala Yousafzai - Penistaan Terhadap Islam Akan Menciptakan Terorisme
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptySun 17 Feb 2019, 7:20 am by buncis hitam

    » Prediksi Bola Terbaik 1 Febuari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyThu 31 Jan 2019, 3:35 pm by bagas87

    » Prediksi Skor Jitu 1 Febuari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyThu 31 Jan 2019, 3:24 pm by bagas87

    » Prediksi & Bursa Bola 1 Febuari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyThu 31 Jan 2019, 3:19 pm by bagas87

    » Prediksi Bola Lengkap 1 Febuari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyThu 31 Jan 2019, 3:15 pm by bagas87

    » Prediksi Bola Terbaik 29-30 Januari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyTue 29 Jan 2019, 2:58 pm by bagas87

    » Prediksi Skor Jitu 29-30 Januari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyTue 29 Jan 2019, 2:48 pm by bagas87

    » Prediksi & Bursa Bola 29-30 Januari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyTue 29 Jan 2019, 2:41 pm by bagas87

    » Prediksi Bola Lengkap 29-30 Januari 2019
    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 EmptyTue 29 Jan 2019, 2:31 pm by bagas87

    Gallery


    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 Empty
    MILIS MURTADIN_KAFIRUN
    MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

    Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

    Menyongsong Punahnya Islam

    Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
     

    Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

    Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

    Powered by us.groups.yahoo.com

    Who is online?
    In total there are 11 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 11 Guests :: 2 Bots

    None

    [ View the whole list ]


    Most users ever online was 354 on Wed 26 May 2010, 4:49 pm
    RSS feeds


    Yahoo! 
    MSN 
    AOL 
    Netvibes 
    Bloglines 


    Social bookmarking

    Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking google  Social bookmarking blogmarks  Social bookmarking live      

    Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

    Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】

    Go down

    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 Empty Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】

    Post by feifei_fairy on Tue 17 Aug 2010, 12:24 am


    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】



    Kesaksian Seorang Amoi yang Menjadi Korban Pemerkosaan Masal oleh Pribumi Indon saat Insiden Mei 1998 【Linda】 9326_1069876285902_1795958816_140042_6379830_n


    Linda (bukan nama sebenarnya), 19 tahun, mahasiswi, Jakarta Utara.

    Aku tidak menduga sebelumnya jika hari itu perbuatan laknat tersebut menimpa diriku. Bahkan siapa yang menyangka bahwa kerusuhan itu sampai melanda tempat tinggalku di apartemen yang tergolong baru, MB, di Jakarta Utara. Pagi itu, seperti pukul 3.55, seperti biasa cerah, tak ada tanda-tanda akan terjadi kerusuhan. Tapi suasana di Jakarta sudah sedikit mencekam. Apalagi setelah aku ditelepon oleh temanku di daerah Jembatan Lima malamnya, bahwa saat itu di daerahnya terjadi kekacauan. Beberapa toko mulai dijarah dan dibakar termasuk toko kertas milik keluarganya. Hari itu, oleh karena aku kuliah di kampus yang berdampingan dengan kampus Trisakti, sehingga untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, kampusku diliburkan hingga suasana normal kembali. Sementara Papa masuk kerja seperti biasa, meskipun sempat ketar-ketir hatinya waktu berangkat.

    Sambil tidur-tiduran di tempat tidur, kusetel radio favoritku, Sonora. Ternyata laporan pandangan mata reporter radio tersebut membuat hatiku semakin tidak tenang. Apalagi aku tinggal hanya berdua dengan Mama di lantai 65 apartemen ini. Aku adalah anak tunggal. Reporter itu mengabarkan bahwa saat itu, massa mulai membanjiri seputar Harmoni. Jalan sekitarnya, Jl. Suryopranoto, Jl. Majapahit, Jl. Djuanda/Veteran, Jl. Gadjah Mada, dan Jl. Hayam Wuruk diblokir. Suasana mulai panas. "Ma. Mama. Sini, Ma," aku memanggil-manggil Mama yang sedari tadi nonton televisi.
    "Ada apa, Lin."
    "Ma, suasana Jakarta tambah gawat. Tuh Mama dengar sendiri aja di radio.
    Papa gimana tuh, Ma?" Aku menguatirkan keselamatan Papa yang bekerja di daerah Jl. Sudirman. Demikian pula dengan Mama. Setelah itu aku kembali menyimak radio Sonora yang biasanya selalu memutar lagu-lagu yang enak didengar kadang-kadang diselingi beberapa informasi penting, tapi hari itu sebaliknya, lebih banyak informasi liputan pandangan matanya, sedangkan lagu-lagunya hanya satu-dua saja.
    Sekitar pukul 3.90, dikabarkan oleh radio tersebut, bahwa situasi di sekitar kantor radio tersebut di daerah Kota, sudah semakin gawat.
    Bahkan asap sudah mulai mengepul di beberapa tempat. Tandanya sudah ada beberapa pembakaran oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Beberapa menit kemudian telepon di meja kecil di samping tempat tidurku
    berdering. Kuangkat gagang telepon.
    "Linda?"
    "Yes."
    "Lin, ini Evy. Di daerah gue gawat, Lin. Ruko-ruko udah mulai dijarah.
    Malah ada lagi yang dibakar."
    Ternyata itu telepon dari Evy, sahabat karibku yang tinggal di daerah Daan Mogot yang memang sedang kacau terus dari kemarin siang.
    Pukul sembilan, telepon berdering lagi. Kali ini pacarku, Hendri, yang tinggal di daerah Pluit mengabarkan bahwa massa mulai bergerak di daerah tersebut. Sebagian melakukan perusakan dan pembakaran di situ, dan sebagian lagi bergerak ke arah Timur. Ya ampun! Celaka. Tempat tinggalku berada di sebelah Timur tidak jauh dari Pluit.
    Jantungku berdegup-degup kencang. Aku takut jika massa bertindak macam-macam di daerah tempat tinggalku itu. Ah, tapi hatiku sedikit tenang mengingat penjagaan keamanan di apartemen tempat aku tinggal ini yang cukup ketat 79 jam. Tidak mungkin ada yang masuk sembarangan.
    Lebih kurang pukul 4.60.....
    "Tok tok tok." Terdengar suara orang mengetuk pintu dengan cukup keras.
    "Ma. Linda aja yang buka pintu," aku langsung berlari kecil ke pintu dan membukanya.
    Ternyata yang mengetuk pintu adalah tetanggaku, Joni. Ia langsung masuk ke dalam dengan tergopoh-gopoh.
    "Ko. Ko Joni. Ada apa?" tanyaku keheranan. Mama pun langsung menghampiri kami berdua.
    "Lin, Ci Sui. Keadaan gawat. Apartemen ini sudah dikepung massa. Mereka beringas sekali. Tau nggak, mereka teriak-teriak apa? Bantai Cina!
    Habisin itu Babi! Dan masih banyak lagi."

    Aku dan Mama berpandangan dan langsung menjadi panik. Tapi Joni menenangkan kami.
    "Lin, Ci Sui. Moga-mogaan mereka nggak naik ke sini. Lagian kan satpam di bawah banyak." Namun itu tidak bertahan lama. Tak lama kemudian ada teman yang tinggal di lantai 9 yang menelepon. Ia mengabarkan bahwa massa sudah mulai naik ke lantai 7 apartemen ini. Saat itu juga kami bertiga takut bercampur panik. Dalam hati kami berdoa agar kami selamat. Setelah itu kami bersiap-siap untuk mengungsi kalau keadaan di sini sudah tidak memungkinkan lagi. Joni pamitan ke sebelah untuk membereskan barang-barangnya juga, sedangkan aku dan Mama mengemas pakaian masing-masing ke dalam tas jinjing.
    "Dok! Dok! Dok!" Aku terperanjat. Pintu diketok keras sekali.
    "Lin! Jangan dibuka pintunya!" Mama berteriak dari kamarnya mencegahku membuka pintu.
    Dengan perasaan mencekam dan takut sekali, aku kembali berdoa. Sejenak hatiku merasa tenang ketika ketokan di pintu itu sudah berhenti. Ternyata doaku dikabulkan. Namun.....
    "Gedubrak!" Pintu depan didobrak orang dan beberapa orang masuk ke dalam dengan muka beringas. Beberapa di antaranya masuk ke kamar Mama dan yang lainnya ke kamarku. Karena pintu kamarku tidak kututup, mereka langsung masuk ke dalam dan berdiri mengelilingi.
    "Heh! Cewek Cina! Mau lari ke mana lu, Hah!" bentak salah seorang di antaranya.
    "Jangan, Mas! Jangan!" Aku menjerit-jerit sejadi-jadinya meminta agar aku tidak diapa-apakan.
    "Mas! Mas! Sejak kapan gua jadi kakaklu?! Lagian ngapain gua punya adik orang Cina kayak lu!" timpal yang lain.
    "Eh, Bong. Babi Cina yang ini lumayan juga." Orang yang dipanggil "Bong" itu mendekatiku. Kulitnya yang hitam di tambah perawakannya yang tinggi besar (lebih tinggi daripadaku yang 626 cm) membuatku kecut. Apalagi ia mengitariku sambil memandangi tubuhku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki.
    "Bener juga! Montok juga ini cewek satu!" Tiba-tiba si "Bong" menyergapku dari belakang. Kedua tangannya meremas-remas kedua belah payudaraku.
    "Eeeihh! Jangaaann!" Aku semakin terteriak-teriak. Akan tetapi tak seorangpun dari mereka yang menggubrisku, bahkan mereka semua semakin dekat mengepungku. Sementara si "Bong" tangannya masih asyik memencet-mencet payudaraku sehingga membuatku merintih-rintih kesakitan. Aku meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Tapi tenaga si "Bong" ini jauh lebih kuat daripadaku. Menyadari usahaku ini sia-sia, akhirnya aku memasrahkan diri saja. Terserah mereka berbuat apa saja terhadap diriku. Asalkan saya nyawaku selamat. Melihat aku yang sudah pasrah, salah seorang teman si "Bong" menyingkap rok dasterku ke atas. Matanya kulihat melotot menyaksikan pahaku yang putih dan mulus. Sempat kulihat pergerakan di selangkangannya. Tapi aku tak mampu lagi berbuat apa-apa. Kemudian ia bersama dengan temannya yang lain meraba-raba kedua belah pahaku itu. Sementara di atas, payudaraku terus digumuli oleh tangan si "Bong" dengan ganasnya. Dan..... "Sreek! Sreekk!" Dengan sekali tarikan keras, si Bong mencoba menyobek bagian atas daster yang kupakai. Awalnya susah memang, sebab dasterku ini memang terbuat dari bahan yang tidak mudah sobek. Namun akhirnya berkat bantuan temannya yang lain, dasterku ini terkoyak juga sampai ke perut. Tinggal menyisakan tubuh bagian atasku yang hampir telanjang dengan hanya ditutupi oleh BH saja. Melihat kedua payudaraku yang tidak begitu besar namun amat kurawat menyembul di balik BH yang kukenakan, si "Bong" dan teman-temannya kelihatan semakin bernafsu untuk menggagahiku. Tak lama kemudian, si "Bong" melepaskan tali pengikat BH-ku, sehingga payudaraku yang menggantung dengan indahnya di dadaku terlihat bebas tanpa penutup apapun. Melihat pemandangan indah sejenak orang-orang yang mengepungku tertegun. Kumanfaatkan kebengongan mereka. Segera aku mencoba berlari ke arah pintu kamar. Tapi celaka, seseorang dari mereka langsung menangkap tanganku, lalu ditariknya dengan keras. Kemudian ia mendorongku dengan keras, sehingga membuatku jatuh tertelentang di kasur.
    "Jangan! Jangan, Mas, Bang! Jangan perkosa saya! Nanti akan saya kasih uang!"
    "Dasar Cina lu! Emangnya gue mau makan uang haram dari orang Cina!"
    "Tau nggak! Karena lu orang Cina, jadi lu mesti diperkosa!"
    Si "Bong" yang tampaknya seperti pemimpin mereka langsung menindih tubuhku. Ibu jari dan telunjuknya menjepit puting susuku dengan keras. Aku menjadi meringis menahan sakit dibuatnya. Sementara ia mengeluarkan sebilah pisau lipat dari sakunya.
    "Heh, cewek. Lu kalo kagak mau nurut sama gua, ntar pentil lu ini gua potong. Mau lu jadi cewek kagak punya pentil!" Si "Bong" mengancam akan memotong puting susuku dengan pisau lipatnya jika aku tidak mau menuruti kemauannya. Akhirnya aku diam saja.


    "Nah, begitu namanya jadi cewek yang manis. Dul! Celana dia!"
    Temannya yang dipanggil dengan "Dul" itu memegang celana dalamku yang kemudian ditariknya turun ke bawah. Sementara itu si "Bong" memotong kain dasterku yang tersisa, sehingga tubuhku menjadi terpampang bebas seutuhnya. Dan tanpa mau membuang-buang waktu, si "Bong" langsung membuka retsleting celananya dan mengeluarkan penisnya dari dalamnya. Lalu ia menghampiriku dan kembali menindih tubuhku.
    Aku menjerit cukup keras ketika penis si "Bong" amblas seluruhnya ke dalam kewanitaanku. Seraya mulutnya melumat payudara dan puting susuku.
    Ia terus memompa penisnya naik-turun di dalam kewanitaanku. Aku meronta-ronta menahan rasa sakit yang terhingga. Kewanitaanku yang masih perawan dan sempit itu dihajar begitu saja oleh penis si "Bong".
    Akhirnya, si "Bong" dan teman-temannya yang berjumlah seluruhnya lima orang itu secara bergiliran mengagahiku. Rasa-rasanya aku seperti hampir pingsan akibat rasa lelah dan rasa sakit yang menjadi-jadi di selangkanganku. Namun begitu setiap aku kelihatan hampir tak sadarkan diri, orang yang sedang menggagahiku menampar pipiku dengan cukup keras untuk menyadarkanku kembali. Begitu seterusnya, hingga kelima orang itu berhasil memperkosaku dengan "sukses". Ternyata penderitaanku belum berakhir. Dengan tertatih-tatih aku diseret keluar ke koridor apartemen dalam keadaan bugil. Aku tidak mengetahui
    keadaan ibuku lagi. Yang kutahu hanya saat aku diseret keluar, kudengar ibuku menjerit-jerit kencang dari dalam kamarnya yang pintunya tertutup rapat. Dan astaga! Di koridor aku menjumpai Joni yang tergeletak babak belur di lantai sedang digebuki oleh empat orang. Aku juga tidak tahu apakah Joni masih hidup ataukah sudah tiada.
    "Sur! Nih, gua serahin cewek ini buat jadi santapanlu!" Si "Bong" berteriak kepada salah orang pengeroyok Joni sambil mendorong tubuhku dengan keras.
    Aku yang memang sudah lemas langsung terjerembab ke lantai koridor. Orang yang dipanggil "Sur" itu menarik tanganku dan menyuruhku berdiri. Dengan susah payah akhirnya aku berhasil berdiri juga. Setelah melihat sekujur tubuhku yang telanjang bulat, ia berteriak kepada temannya. "Weh, Den! Boleh juga ini cewek Cina! Kita kerjain die sekarang!"
    Aku pun diseret kembali. Kali ini oleh si "Sur", si "Den", dan dua orang temannya. Si "Den" membuka pintu tangga darurat. Tubuhku pun yang hampir tak berdaya diseret masuk ke dalam. Akhirnya aku dibaringkan tertelentang di anak tangga darurat, dan kembali aku digagahi. Kali ini oleh empat orang. Mereka bergantian memperkosaku. Akhirnya aku sudah tidak mengetahui lagi sudah berapa orang dari mereka yang telah menikmati tubuhku karena aku langsung tak sadarkan diri.

    * * *

    Hari ini adalah tepat dua minggu setelah hari naas itu. Bayangkan! Aku menjadi korban perkosaan oleh sembilan orang sekaligus! Mama, wanita separuh baya yang berusia 84 tahun, juga diperkosa oleh orang-orang biadab itu. Sementara itu, tetanggaku Joni ternyata menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah dirawat beberapa hari di RS. Atmajaya, Pluit.
    Sejak saat itu sampai kini aku belum masuk kuliah. Rasa traumaku belum juga hilang. Beberapa orang teman kuliahku seringkali menjengukku yang kini untuk sementara tinggal di rumah saudaraku di Jatinegara. Tapi aku bukan Linda yang dulu. Aku sekarang adalah Linda yang lain. Sudah tidak ada lagi Linda yang bawel, Linda yang ceria. Yang tersisa sekarang hanyalah Linda yang pendiam dan Linda yang sering termenung! Entah, sampai kapan aku bisa melupakan semua kejadian pahit ini? Entah!

    _________________
    Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti terwujud. Feifei_fairy
    feifei_fairy
    feifei_fairy
    KAFIRUN
    KAFIRUN

    Female
    Number of posts : 802
    Reputation : -14
    Points : 5440
    Registration date : 2008-12-20

    View user profile https://www.facebook.com/Feifeifairy

    Back to top Go down

    Back to top

    - Similar topics

     
    Permissions in this forum:
    You cannot reply to topics in this forum