MURTADIN_KAFIRUN
Latest topics
» Malala Yousafzai - Penistaan Terhadap Islam Akan Menciptakan Terorisme
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptySun 17 Feb 2019, 7:20 am by buncis hitam

» Prediksi Bola Terbaik 1 Febuari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyThu 31 Jan 2019, 3:35 pm by bagas87

» Prediksi Skor Jitu 1 Febuari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyThu 31 Jan 2019, 3:24 pm by bagas87

» Prediksi & Bursa Bola 1 Febuari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyThu 31 Jan 2019, 3:19 pm by bagas87

» Prediksi Bola Lengkap 1 Febuari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyThu 31 Jan 2019, 3:15 pm by bagas87

» Prediksi Bola Terbaik 29-30 Januari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyTue 29 Jan 2019, 2:58 pm by bagas87

» Prediksi Skor Jitu 29-30 Januari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyTue 29 Jan 2019, 2:48 pm by bagas87

» Prediksi & Bursa Bola 29-30 Januari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyTue 29 Jan 2019, 2:41 pm by bagas87

» Prediksi Bola Lengkap 29-30 Januari 2019
Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah EmptyTue 29 Jan 2019, 2:31 pm by bagas87

Gallery


Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah Empty
MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 9 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 9 Guests :: 1 Bot

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed 26 May 2010, 4:49 pm
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking google  Social bookmarking blogmarks  Social bookmarking live      

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah

Go down

Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah Empty Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah

Post by paulusjancok on Mon 22 Aug 2011, 12:02 am

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Al Quran Al Karim:

"Takutlah kalian kepada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zholim diantara kalian secara khusus." (QS. Al Anfal:25).

Ayat ini merupakan pokok penjelasan dalam fitnah. Karena itu Al Imam Al Bukhari dalam shahihnya memulai Kitabul Fitan (Kitab Penjelasan Fitnah-Fitnah) dengan penyebutan ayat ini.

Firman Allah Ta'ala: "Takutlah kalian kepada fitnah ... " ini menunjukkan wajibnya atas seorang muslim untuk berhati-hati menghadapi fitnah dan menjauhinya dan tentunya seorang tidak bisa menjauhi fitnah itu kecuali dengan mengetahui dua perkara:

1) Apa-apa saja yang dianggap fitnah di dalam syari'at Islam.

2) Pijakan, atau cara melangkah dalam meredam atau mejauhi fitnah tersebut.

Kemudian Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam menafsirkan ayat ini, beliau berkata: "Ayat ini walaupun merupakan pembicaraan yang ditujukan kepada para shahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi ayat ini berlaku umum pada setiap muslim karena Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam mentahdzir (memperingatkan) dari fitnah."

Kalimat fitnah dalam konteks ayat, datang dalam bentuk nakirah sehingga mempunyai makna yang umum menyangkut segala sesuatu yang meruapakan fitnah bagi manusia.

Imam Al Alusi ketika menafsirkan kalimat fitnah dalam ayat ini, beliau berkata: "Fitnah ditafsirkan (oleh para ulama salaf) dengan beberapa perkara, diantaranya Mudahanah dalam amar ma'ruf dan nahi munkar, dan diantaranya meninggalkan pengingkaran terhadap bid'ah-bid'ah yang muncul dan lain-lainnya." Kemudian beliau berkata: "Setiap makna tergantung dari konsekuensi keadaannya."

Dan dikatakan di dalam ayat "Takutlah kalian ... " ini menunjukkan bahwa fitnah itu buta dan tuli tidak pandang bulu dan dapat menimpa siapa saja. Berkata Imam Asy Syaukani dalam tafsirnya: "Yaitu takutlah kalian kepada fitnah yang melampaui orang-orang yang zholim sehingga menimpa orang shalih dan orang thalih (tidak shalih) dan timpaan fitnah itu tidak khusus bagi orang yang langsung berbuat kedzaliman tersebut di antara kalian."

Definisi Fitnah

Fitnah dalam syari'at Islam mempunyai beberapa makna:

1. Bermakna syirik, seperti dalam firman Allah Ta'ala:

"Dan perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah dan sampai agama semuanya untuk Allah." (QS. Al Baqarah:93) yaitu hingga tidak ada lagi kesyirikan.

Dan Allah berfirman:

"Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh." (QS. Al Baqarah:217).

2. Bermakna siksaan dan azab, seperti dalam firman Allah Ta'ala:

"(Dan katakan kepada mereka): Rasakanlah fitnah itu. Inilah fitnah yang dahulu kamu minta supaya disegerakan." (QS. Adz Dzariyat:14)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan fitnah kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar." (QS. Al Buruj:10).

Makna fitnah dalam dua ayat ini adalah siksaan dan azab.

3. Bermakna ujian dan cobaan. Seperti dalam firman Allah Ta'ala:

"Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai fitnah (yang sebenar-benarnya)." (QS. Al Anbiya:35)

Dan Allah Jalla Wa 'Ala menyatakan dalam firman-Nya:

"Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah merupakan fitnah." (QS. Al Anfal:28).

4. Bermakna musibah dan balasan. Sebagaimana yang ditafsirkan para ulama dalam surah Al Anfal ayat 25 di atas:

"Takutlah kalian kepada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zholim diantara kalian secara khusus."

Lihat Mauqiful Mukmin Minal Fitan karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz dan Mufrodat Al Qur-an karya Ar Raghib AL Ashbahani.

Demikian definisi fitnah, tatapi harus diketahu oleh setiap muslim bahwa fitnah yang ditimpakan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala itu mempunyai hikmah dibelakangnya. Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Alif Laam Miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, 'Kami telah beriman', sedangkan mereka tidak diuji lagi? Dan sesunggunya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesunggunya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al Ankabut: 1-3).



Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa kaidah-kaidah pokok yang harus dipegang oleh setiap muslim dalam menghadapi fitnah.

Kaidah Pertama: Pada setiap perselisihan merujuk pada Al Qur-an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama salaf.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (-Nya), dan ulil amri diantara kamu. Kemudian jika kamu berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya". (QS. An Nisa':59).

Dan Allah Jalla Tsana-uhu berfirman:

"Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya)". (QS. Al A-raf:2).

Dan di dalam Hadits Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Saya tinggalkan pada kalian dua perkara, kalian tidak akan sesat dibelakang keduanya (yaitu) kitab Allah dan Sunnahku". (HR. Malik dan Al Hakim dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Misykah).

Dan dalam surah An Nisa':65, Allah Ta'ala menyatakan:

"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam segala perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan di dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya".

Dan ingatlah bahwa menentang Allah dan Rasul-Nya adalah sebab kehinaan. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka teramsuk orang-orang yang sangat hina". (QS Al Mujadilah:20).

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengingatkan dalam hadist Ibnu Umar:

"Apabila kalian telah berjual beli dengan cara 'inah dan kalian telah ridho dengan perkebunan dan kalian telah mengambil ekor-ekor sapi dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kepada kalian suatu kehinaan yang tidak akan diangkat sampai kalian kembali kepada agama kalian". (HR. Abu Dawud dan lainnya, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no 11).

Dan juga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengingatkan dalam hadits beliau:

"Dan telah dijadikan kehindaan dan kerendahan bagi orang yang menyelisihi perintahku". (Hadits hasan dari seluruh jalan-jalannya. Dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Al Irwa' no 1269).

Dan ketahuilah bahwa menyelisihi Allah dan Rasul-Nya adalah sebab turunnya musibah dan siksaan dan sebab kehancuran dan kesesatan. Allah Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya:

"Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih". (QS. An Nur:63).

Dan dalam hadits Abu Hurairah riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyatakan:

"Apa yang saya melarang kalian darinya maka jauhilah hal tersebut dan apa yang saya perintahkan kepada kalian maka laksanakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang menghancurkan orang-orang sebelum kalian hanyalah banyaknya pertanyaan mereka dan penyelisihan mereka terhadap para Nabinya".

Dan Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu 'anhu berkata:

"Tidak saya meninggalkan sesuatu apapun yang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengerjakannya kecuali saya kerjakan karena saya takut kalau saya meninggalkan sesuatu dari perintah beliau saya akan menyimpang". (Riwayat Bukhari dan Mulsim).

Dan memahami Al Qur-an dan As Sunnah harus dengan pemahaman para ulama Salaf. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali". (An Nisa':115).

Dalam hadits yang mutawatir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sebaik-baik manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya".

Dan beliau menyatakan :

"Telah terpecah orang-orang Yahudi menjadi tujuh puluh satu firqah dan telah terpecah orang-orang Nashara menjadi tujuh puluh dua firqah dan sesungguhnya umatku akan terpecah mejadi tujuh puluh tiga firqah, semuanya dalam neraka kecuali satu dan ia adalah al jama'ah". (Hadits shahih dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Zhilalul Jannah dan Syaikh Muqbil dalam Ash Shahih AL Musnad Mimma Laisa Fi Ash Shahihain).

Karena itulah Imam Ahmad berkata: "Pokok sunnah bagi kami adalah berpegang teguh di atas apa yang para shahabat di atasnya dan mengikuti mereka". Lihat Syarah Ushul I'tiqad Ahlus sunnah wal Jama'ah 1/176.

Allahu Akbar ! betapa kuatnya pijakan seorang mulsim bila ia berpegang teguh kepada Al Qur-an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para ulama salaf. Ini merupakan senjata yang paling ampuh dan tameng yang paling kuat dalam menghadapi dan menangkis setiap fitnah yang datang. Dan sejarah telah membuktikan bagaimana orang-orang yang berpegang teguh kepada Al Qur-an dan Sunnah selamat dari fitnah dan mereka tetap kokoh di atas jalan yang lurus.

Lihatlah kisah Abu Bakar Ash Shadiq radhiyallahu 'anhu, ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengirim Usamah bin Zaid dengan memimpin 700 orang untuk menggempur kerajaan Rum. Maka ketika pasukan tersebut tiba di suatu tempat yang bernama Dzu Khasyab, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meninggal. Maka mulailah orang-orang Arab di sekitar Madinah murtad dari agama sehingga para shahabat mengkhawatirkan keadaan kota Madinah. Lalu para shahabat berkata kepada Abu Bakar: "Wahai Abu Bakar, kembalikan pasukan yang dikirim ke kerajaan Rum itu, apakah mereka diarahkan ke Rum sedang orang-orang Arab di sekitar Madinah telah murtad?" Maka Abu Bakar radhiyallahu 'anhu berkata: "Demi yang tidak ada sesembahan yang berhak selain-Nya, andaikata anjing-anjing telah berlari di kaki-kaki para istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, saya tidak akan menarik suatu pasukanpun yang dikirim oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan saya tidak akan melepaskan bendera yang diikat oleh Rasulullah."

Lihat bagaimana gigihnya Abu Bakar Ash Shadiq radhiyallahu 'anhu berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam kondisi yang sangat gentign seperti ini dan betapa kuatnya keyakinan beliau akan kemenangan orang yang menjalankan perintah-Nya.

Maka apa yang terjadi setelah itu, setiap kali pasukan Usamah bin Zaid melewati suatu suku yang murtad mereka berkata, "Andaikata mereka itu tidak mempunyai kekuatan, tentu tidak akan keluar pasukan sekuat ini dari mereka. Tapi kita tunggu sampai mereka bertempur melawan kerajaan Rum." Lalu bertempurlah pasukan Usamah bin Zaid menghadapi kerajaan Rum dan pasukan Usamah berhasil mengalahkan dan membunuh mereka. Kemudian kembalilah pasukan Usamah dengan selamat maka tetaplah orang-orang yang akan murtad itu tadi di atas Islam. Baca kisah ini dalam Madarik An Nazhor hal. 51-52.
Maka lihatlah wahai orang-orang yang menghendaki keselamatan, peganglah kaidah pertama ini dengan baik, niscaya engkau akan selamat dari fitnah di dunia dan di akhirat.

Kaidah kedua: Merujuk kepada para ulama.

Allah Al Hakim mengisahkan tentang Qarun dalam firman-Nya:

"Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: 'Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar'. berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: 'Celakalah kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang-orang yang sabar. Maka Kami benamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya sesuatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)." (Al Qashash:79-81).

Karena itulah Imam Al Hasan Al Bashri berkata: "Sesungguhnya bila fitnah itu datang, diketahui oleh setiap alim (ulama), dan apabila telah terjadi (lewat), maka baru diketahui oleh orang-orang yang jahil". Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa alihi wa sallama bersabda dalam hadits 'Ubadah bin Shomit riwayat imam Ahmad dan lain-lain:

"Bukan dari ummatku siapa yang tidak menghormati orang yang besar dari kami dan tidak merahmati orang yang kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang yang alim dari kami". (Dihasankan oleh Syeikh Al Albany dalam Shohih Al-Jami' Ash-Shoghir).

Dan juga Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits Ibnu 'Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Al Hakim, Ibnu Hibban dan lain-lain:

"Berkah itu bersama orang-orang besarnya kalian". (Dishohihkan oleh Syeikh Al Albany dalam Silsilah Ahadits Ash Shohihah no. 1778).

Dan fitnah akan bermuculan apabila para ulama sudah tidak ada lagi dijadikan sebagai rujukan sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah riwayat Ibnu Majah dan lain-lainnya, Rasulullah shollallahu 'alaihi wa alihi wa sallam bersabda:

"Akan datang kepada manusiatahun-tahun yang menipu, akan dipercaya/dibenarkan padanya orang yang berdusta dan dianggap dusta orang yang jujur, orang yang berkhianat dianggap amanah dan orang yang amanah dianggap berkhianat dan akan berbicara Ar-Ruwaibidhoh. Ditanyakan: "Siapakah Ar-Ruwaibidhoh itu?. Beliau berkata: "Orang yang bodoh berbicara dalam perkara umum". (Dishohihkan oleh Syeikh Muqbil dalam Ash-Shohih Al-Musnad Mimma Laisa Fi Ash Shohihain).

Dan juga Rasulullah shollallahu 'laihi wa alihi wa sallam bersabda dalam hadits 'Abdullah bin 'Amr bin 'Ash riwayat Bukhariy-Muslim:

"Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari para hamba akan tetapi Allah mencabutnya dengan mencabut (mewafatkan) para ulama sampai bila tidak tersisa lagi seorang alim maka manusiapun mengambil para pemimpin yang bodoh maka merekapun ditanya lalu mereka memberi fatwa tanpa ilmu maka sesatlah mereka lagi menyesatkan".

Dan berkata Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu:

"Manusia masih akan senantiasa sebagai orang yang sholeh lagi berpegang teguh sepanjang ilmu datang kepada mereka dai para shahabat Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan orang-orang besar mereka. Maka apabila (ilmu) datang kepada mereka dari orang-orang kecil maka binasalah mereka". Lihat takhrijnya dalam kitab madarik An Nazhar hal 161.

Kaidah Ketiga: Tidak boleh berkomentar dalam perkara-perkara Nawazil kecuali para ulama besar ahli ijthad. Nawazil jamak dari Nazilah, maksudnya yaitu kejadian-kejadian atau masalah -masalah kontemporer yang terjadi pada kaum muslimin. Dan Nawazil ini dikenal juga dengan istilah hawadits.

Ukuran Ulama Besar Ahli Ijtihad.

Berkata Ibnul Qoyyim dalam I'lam Al Muwaqqi'in 4/212: "Orang yang alim terhadap Kitabullah dan Sunnah RasulNya dan perkataan para shahabat, maka dialah mujtahid (ahli ijtihad) pada perkara-perkara Nawazil."

Berkata Imam Asy Syatibi dalam Al I'tishom 4/212: "Bahkan apabila dihadapkan kepadanya perkara-perkara Nawazil kemudian dia kembalikan pada ushulnya maka ia mendapatkan (penyelesaiannya) di dalamnya dan hal tersebut tidak didapatkan oleh orang yang bukan mujtahid. Tapi hanyalah didapatkan oleh para mujtahid yang disifatkan dalam ilmu ushul fikih."

Dan Ibnu Rajab mencontohkannya seperti Imam Ahmad dan kemudian beliau menjelaskan sisi kepantasan Imam Ahmad untuk berfatwa dalam Nawazil. Di antara kriteria imam Amhad yang beliau sebutkan yaitu beliau telah mencapai puncak pengetahuan tentang Al Quran, As Sunnah dan Al Atsar. Ilmu Al Quran seperti ilmu tentang An Nasikh wal Mansukh, Al Mutaqaddimin wal Mutaakhkhir dan mengumpulkan tafsir para sahabat dan para tabi'in. Ilmu As Sunnah seperti hafalan beliau terhadap hadits, mengetahui yang shohih dan dhoifnya, mengetahui rowi-rowi yang tsiqah dan yang majruh dan mengetahui jalan-jalan hadits dan cacat-cacatnya... kemudian Ibnu Rajab berkata, "Telah dimaklum siapa yang memahami semua ilmu ini dan sangat menguasainya, adalah suatu hal yang sangat mudah baginya untuk mengetahui Hawadits dan memberikan jawabannya".

Dalil kaidah ketiga ini adalah firman Allah Ta'ala dalam surah An Nisa ayat 83:

"Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri diantara mereka, tentulah akan diketahui hal tersebut oleh orang-orang yang beristimbath diantara mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalaulah bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (diantaramu)".

Berkata syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa'dy menafsirkan ayat ini, "Ini adalah pelajaran adab dari Allah kepada para hamba-Nya tentang perbuatan mereka ini yang tidak layak. Dan yang pantas bagi mereka apabila datang kepada mereka suatu perkara dari perkara-perkara yang penting dan maslahat-maslahat umum yang berkaitan dengan keamanan dan kebahagiaan kaum mukminin atau (berkaitan) dengan ketakutan yang didalamnya terdapat musibah, maka wajib atas mereka untuk ber-tatsabbut (mencari kejelasan) dan jangan tergesa-gesa menyebarkan berita tersebut bahkan hendaknya mereka mengembalikannya kepada Rasul dan kepada Ulil Amri di atara mereka, yaitu Ahli ra'yi wal ilmi wan nushhi wal aqli war razanah (para ahli dalam menilai/mempertimbangkan, dalam ilmu, dalam menasehati, dalam berfikir dan memiliki ketenangan) yang mengetahui apa-apa yang merupakan maslahat dan kebalikannya. Kalau mereka melihat penyebaran berikt tersebut sebagai maslahat, menambah semangat kaum mukminin, kegembiraan bagi mereka dan benteng dari musuh-musuh mereka maka mereka mengerjakannya (menyebarkannya). Dan kalau mereka melihat tidak ada maslahat tapi bahayanya melebihi maslahatnya maka tidaklah mereka sebarkan, karena itulah (Allah Ta'ala) berfirman, 'Maka akan diketahui hal tersebut oleh orang-orang yang beristimbat dari mereka' , yaitu mereka akan mengeluarkan hal tersebut dengan pemikiran mereka dan pendapat-pendapat mereka yang lurus dan ilmu mereka yang di atas petunjuk."

Allahu Akbar betapa sempurnanya tuntunan islam, andaikata kaum muslimin beramal dengan kaidah ini niscaya mereka akan terjaga dari fitnah. Sungguh berbagai macam fitnah yang melanda kaum muslimin disebabkan karena kekurangjaran sebagian orang yang tidak tahu kadar dirinya dan merasa bangga dengan kemampuannya atau dengan title-title yang mereka sandang sehingga dengan sangat lancangnya berani berkomentar dalam perkara-perkara Nawazil yang terjadi pada kaum muslimin. Maka wajarlah jika muncul berbagai macam kerusakan dan fitnah yang lebih besar karena ulah segelintir orang yang tidak tahu diri ini. Dan cukuplah hal tersebut sebagai dosa yang sangat besar bagi orang yang menyelisihi perintah dalam surah An Nisa' di atas dan juga dia tergolong orang-orang yang tidak menempatkan amanah pada tempatnya, yang amanah itu harusnya diserahkan kepada ahlinya yaitu para ulul amri, para ulama besar dan penguasa. Dan tidak menempatkan amanah pada tempatnya adalah pelanggaran terhadap perintah Allah Ta'ala dan merupakan salah satu tanda hari kiamat.

Allah Ta'ala berfirman dalam surah An Nisa: 58:

"Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat".

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya ketika ditanya tentang kapankah hari kiamat? Beliau bersabda:

"Apabila amanah telah ditelantarkan maka tunggulah hari kiamat." Maka orang itu kembali bertanya, "Kapan ditelantarkannya?" Beliau menjawab, "Apabila perkara telah diserahkan kepada selain ahlinya maka tunggulah hari kiamat". (HSR Bukhari dari shahabat Abu Hurairah).

Dan menyerahkan perkara Nawazil kepada ulil amri merupakan ushul (pokok) syari'at Islam yang dipegang pleh para imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah dari zaman ke zaman.

Berkata Abu Hatim Ar Razy: "Madzhab dan pilihan kami adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam dan para shahabat beliau, para tabi'in dan orang-orang setelah mereka (yang mengikuti mereka) dengan baik ... . Dan komitmen terhadap Al Kitab dan As Sunnah dan membela para Imam yang mengikuti jejak para ulama salaf. Dan pilihan kami apa yang dipilih oleh Ahlus Sunnah dari para imam di berbagai negeri, seperti: Malik bin Anas di Madinah dan Al Auza'y di Syam dan Al Laits bin Saad di Mesir dan Sufyan Ats Tasury serta Hammad bin Zaid di Iraq pada hawadits yang tidak ditemukan tentangnya riwayat dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, para shahabat dan tabi'in. Dan meninggalkan pendapat-pendapat Al Mulabbisin (orang-orang yang menyamar-nyamarkan perkara), Al Mumawwihin (orang-orang yang mengaburkan perkara), Al Muzakhrifin (orang-orang yang menghias-hiasi/memperindah perkara dari yang sebenarnya), Al Mumakhriqin (para pembohong) lagi Al Kadzdzabin (para pendusta)". Lihat: Syarh Ushul I'tiqad Ahlis Sunnah Wal Jama'ah, karya Al Lalaka'i Jilid 1 hal 202.

Dan berkata Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Minhajus Sunnah jilid 4 hal 404 ditengah pembicaraan beliau terhadap masalah jihad: "Secara global pembahasan tentang perkara-perkara detail ini merupakan pekerjaan orang khusus dari para ulama".

Lihat rincian kaidah ketiga secara lengkap dalam kitab Madarik An Nazhor Baina At Thabiqot Asy Syar'iyah wal Al Infi'alat Al Hamasiyah. Kitab ini telah direkomendasi oleh dua ulama besar di zaman ini yaitu syaikh Al Allamah Al Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al Albani -rahimahullah- dan syaikh Al Allamah Al Muhaddits Abdul Muhsin Al Abbad -hafizhahullah-.

Kaidah Keempat: Dalam setiap sesuatu hendaknya bersikap lemah lembut, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa dalam menarik kesimpulan atau memberikan hukum.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman pada Nabi-Nya:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu". (QS. Al Imran: 159).

Dan dalam hadits 'Aisyah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya tidaklah lemah lembut itu berada pada sesuatu apapun kecuali akan menghiasinya dan tidaklah dicabut dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek". (HSR. Muslim).

Dan dalam hadits Jarir bin 'Abdillah, beliau juga menegaskan:

"Siapa yang diharamkan dari sifat lemah lembut maka diharamkan (untuknya) kebaikan". (HSR. Muslim).

Dan dalam hadits 'Aisyah riwayat Bukhari dan Muslim beliau menyatakan:

"Sesungguhnya Allah mencintai kelemahlembutan dalam segala perkara".

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda kepada Al Asyajj Abdul Qais:

"Sesungguhnya pada engkau ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, Al Hilm (kebijaksanaan) dan Al Anah (tidak tergesa-gesa)." (HSR. Muslim dari Ibnu Abbas dan Abu Sa'id Al Khudry).

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga bersabda:

"Pelan-pelan (tidak tergesa-gesa) dari Allah dan tergesa-gesa itu dari syaitan". (Dihasankan oleh syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1795).

Kaidah Kelima: Bersikap adil dalam setiap sesuatu.

Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepada kamu agar kalian dapat mengambil pelajaran". (QS An Nahl: 90).

Dan Allah Ta'ala memerintahkan dalam firman-Nya:

"Dan Apabila kalian berkata, maka hendaklah kalian berlaku adil kendatipun dia adalah kerabat (kalian)". (QS. Al An'am: 152).

Dan Allah Ta'ala menegaskan dalam firman-Nya di surah Al Maidah ayat 8:

"Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah karena adil itu lebih dekat kepada takwa".

Ayat-ayat di atas sangat jelas sekali menunjukkan harusnya berlaku adil pada segala sesuatu dan tentunya hal tersebut lebih ditekankan pada kondisi fitnah maka hendaknya setiap orang berlaku adil dalam berucap, berbuat, bersikap dan memberikan hukum. Dan ukuran suatu keadilan tentunya ditimbang menurut tuntunan Al Quran dan Sunnah.

Kaidah keenam: Tidak boleh menghukumi suatu permasalahan kecuali setelah mengetahui gambaran yang jelas tentang permasalahan tersebut.

Dan kaidah ini mempunyai dasar yang sangat banyak dari Al Quran dan Sunnah.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam surah Al Isra' ayat 36:

"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya".

Dan Allah Jalla wa 'Ala berfirman dalam surah Al Hujurat ayat 6:

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa sesuatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan sesuatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu".

Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu kalimat yang ia tidak mencari kepastian apa yang ada di dalamnya, maka disebabkan hal itu dilemparkan ke dalam neraka sejauh antara timur dan barat". (HSR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Kaidah ini adalah kaidah yang sangat bermanfaat dan membantu dalam segala bentuk fitnah yang terrjadi. Camkanlah baik-baik kaidah ini dan warnailah gerak-gerikmu dengannya niscaya engkau akan selamat. Wallahul Muwaffiq.

Kaidah ketujuh: Pada kondisi fitnah tidak segala sesuatu yang diketahui harus diucapkan.

Perkataan dan perbuatan dalam kondisi fitnah harus mempunyai ketentuan dan aturan. Tidak semua perkara yang dipandang baik harus dinampakkan dan dikerjakan. Karena perkataan dan perbuatan dalam kondisi fitnah akan melahirkan suatu akibat dibelakangnya.

Dalam hadits 'Aisyah radhiyallahu 'anha Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Wahai 'Aisyah andaikata kaummu (penduduk Makkah) bukan orang yang baru (meninggalkan) kekufuran, niscaya saya merobohkan Ka'bah kemudian saya akan menjadikannya dua pintu, pintu tempat manusia masuk dan pintu mereka keluar." (HSR. Bukhari dan Muslim).

Lihatlah wahai orang-orang yang berfikir kenapa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak melakukan apa yang beliau kehedaki, bukankah itu sunnahnya dan syari'at yang beliau bawa? Jawabannya jelask karena orang-orang Makkah baru masuk islam dan mereka sangat mengagungkan Ka'bah maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam takut kalau beliau merubah bangunan ka'bah beliau dianggap orang sombong terhadap mereka sehingga hal tersebut bisa menyebabkan mereka lari dari Islam dan kembali kepada kekufuran. Karena itulah Imam Bukhari ketika menyebutkan hadits ini, beliau sebutkan dengan judul; "Bab orang meninggalkan sebagian pilihan karena takut sebagian orang kurang memahaminya lalu terjatuhlah mereka ke dalam perkara yang lebih besar".

Dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu berkata:

"Berceritalah kepada manusia dengan apa yang mereka ketahui, apakah kalian ingin Allah dan Rasul-Nya didustakan?" (Riwayat Bukhari).

Dan 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

"Tidaklah engkau berbicara kepada sesuatu kaum dengan suatu pembicaraan yang tidak bisa dicerna oleh akal mereka kecuali akan menjadikan fitnah pada sebagian mereka". (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya dengan sanad yang terputus).

Dan dalam hadits riwayat Bukhari, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:

"Saya menghafat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dua kantong. Adapun salah satunya saya telah sebarkan dan adapun yang lainnya kalau saya sebarkan maka akan diputus leher ini".

Berkata Imam Adz Dzahabi dalam Syiar A'lam An Nubala jilid 2 hal 597-598: "Ini menunjukkan bolehnya menyembunyikan sebagian hadits-hadits yang bisa menggerakkan fitnah dalam Al Ushul (masalah-masalah pokok) maupun Al Furu' (masalah-masalah cabang) atau dalam (hadits-hadits tentang) pujian dan celaan. Adapun hadits yang berkaitan dengan halal dan haram maka tidak halal untuk disembunyikan dalam bentuk bagaimanapun karena itu dari kejelasan dan petunjuk".

Kemudian beliau sebutkan perkataan Ali bin Abi Thalib di atas lalu beliau berkata: "Dan demikian pula Abu Hurairah andaikata beliau menyebarkan kantong itu niscaya dia akan disakiti bahkan akan dibunuh. Akan tetapi seorang alim kadang-kadang ijtihadnya mendorongnya untuk menyebarkan suatu hadits untuk menghidupkan sunnah maka baginya apa yang ia niatkan dai ia mendapatkan pahala walaupun ia salah dalam ijtihadnya".

Dan Al Hafidz Ibnu Hajar di dalam Fathul Bari jilid 1 hal 225 ketika menjelaskan perkataan Ali bin Abi Thalib, beliau berkata: "Didalamnya ada dalil bahwa perkara yang mutasyabih (yang mengandung beberapa pengertian) tidak pantas disebutkan pada khalayak umum".

Kemudian beliau menyebutkan perkataan Ibnu Mas'ud lalu beliau berkata" dan antara orang-orang yang tidak senang memberikan hadits pada sebagian orang adalah imam Ahmad dalam hadits-hadits yang zhahirnya membolehkan khuruj (kudeta) terhadap pemerintah, dan imam Malik dalam hadits-hadits tentang sifat-sifat (Allah) dan Abu Yusuf tentang hadits-hadits yang gharib (aneh dari sisi makna maupun lafadz) ... Dan dari Al Hasan (Al Basri) ia mengingkari Anas radhiyallahu 'anhu menceritakan kepada Hajjaj tentang kisah Al Uraniyyin karena ia akan menjadikannya sebagai wasilah yang selama ini ia pegang dalam berlebihan menumpahkan darah dengan ta'wil yang lemah.

Dan ukuran hal tersebut (boleh menyembunyikan sebagian hadits) yaitu hendaknya zhohir suatu hadits menguatkan suatu bid'ah dan yang zhohir tersebut pada asalnya bukan yang diinginkan. maka menahannya (menyembunyikannya) dari orang yang ditakutkan ia akan mengambil zhohirnya adalah perkara yang mathlub (dicari dan diinginkan)".

Demikian tujuh kaidah ini secara ringkas kami sarikan dari beberapa sumber, yang paling pentingnya kitab Adh Dhowabith Asy Sar'iyah li Mawqif Al Muslim fil Fitan karya Syaikh Sholeh bin Abdul Aziz Alu Asy Syaikh dan kitab Madarik An Nadzor karya Syaikh Abul Malik Romadhony. Dan banyak lagi kaidah-kaidah lainnya mudah-mudahan bermanfaat.

Wallahu ta'ala a'lam. Wa Fauqo kulli Dzi 'Ilmin 'Alim.

Maraji': Risalah Ilmiah An Nashihah,
paulusjancok
paulusjancok
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts : 809
Age : 32
Humor : Yesus nggak pake sempak...hanya orang GOBLOK yang menyembahnya
Reputation : 1
Points : 4754
Registration date : 2011-08-12

View user profile

Back to top Go down

Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah Empty Re: Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah

Post by agus on Mon 22 Aug 2011, 12:05 am

Kalau gitu kita menanggapinya juga harus tepat sasaran ...... Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah SFi_annihilate

_________________
Jika pikiran bisa memikirkannya, dan hati saya dapat mempercayainya - maka saya bisa mencapainya
agus
agus
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Male
Number of posts : 8585
Location : Everywhere but no where
Job/hobbies : Baca-baca
Humor : Shaggy yang malang
Reputation : 45
Points : 12916
Registration date : 2010-04-16

View user profile

Back to top Go down

Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah Empty Re: Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah

Post by paulusjancok on Mon 22 Aug 2011, 12:09 am

@agus wrote:Kalau gitu kita menanggapinya juga harus tepat sasaran ...... Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah SFi_annihilate

dan jangan mudah tergoda oleh Fitnah Dajjal
paulusjancok
paulusjancok
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts : 809
Age : 32
Humor : Yesus nggak pake sempak...hanya orang GOBLOK yang menyembahnya
Reputation : 1
Points : 4754
Registration date : 2011-08-12

View user profile

Back to top Go down

Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah Empty Re: Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah

Post by agus on Mon 22 Aug 2011, 12:20 am

@paulusjancok wrote:
@agus wrote:Kalau gitu kita menanggapinya juga harus tepat sasaran ...... Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah SFi_annihilate

dan jangan mudah tergoda oleh Fitnah Dajjal

Yang selalu menebar mimpi .... Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah SFi_slap2

_________________
Jika pikiran bisa memikirkannya, dan hati saya dapat mempercayainya - maka saya bisa mencapainya
agus
agus
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Male
Number of posts : 8585
Location : Everywhere but no where
Job/hobbies : Baca-baca
Humor : Shaggy yang malang
Reputation : 45
Points : 12916
Registration date : 2010-04-16

View user profile

Back to top Go down

Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah Empty Re: Pijakan seorang muslim ditengah gelombang fitnah

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum